<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030</id><updated>2012-02-16T12:02:25.764-08:00</updated><title type='text'>Pendidikan Luar Sekolah</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>34</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-630846105963290</id><published>2008-05-30T05:14:00.000-07:00</published><updated>2008-05-30T06:10:50.560-07:00</updated><title type='text'>TUJUAN  PERKULIAHAN  PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH  S1</title><content type='html'>Oleh: Ika umaya Yasinta(1102406008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkuliahan pendidikan luar sekolah diberikan kepada mahasiswa dalam bentuk  tatap muka,praktek dan kegiatan lapangan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pengalaman belajar yang diperlukan dalam perkuliahan pendidikan luar sekolah adalah:&lt;br /&gt;          1.Mempelajari dasar-dasar perencanaan dan menyusun rencana terpadu pendidikan luar sekolah.&lt;br /&gt;          2.Berlatih menyusun perencanaan pendidikan luar sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan perkuliahan pendidikan luar sekolah :&lt;br /&gt;         1. Agar mahasiswa dapat memahami dan menguasai pengertian perencanaan dan perencanaan terpadu Pendidika Luar Sekolah.&lt;br /&gt;         2. Agar mahasiswa dapat mengetahui bentuk -bentuk dan tehnik perencanaan Pendidikan                 Luar Sekolah.&lt;br /&gt;        3. Agar mahasiswa memahami asprk-aspek Pendidikan Luar Sekolah&lt;br /&gt;        4. Agar mahasiswa dapat memahami ,menyusun suatu perumusan tujuan  perencanaan pendidikan luar Sekolah.&lt;br /&gt;        5. Agar mahasiswa dapat memahami cara penilaian suatu perencanaan Pendidikan luar    sekolah.&lt;br /&gt;        6. Agar mahasiswa terampil dalam menyusun suatu tujuan dan target perencanaan .&lt;br /&gt;        7. Agar mahasiswa mampu menilai suatu perencanaan Pendidikan Luar Sekolah.&lt;br /&gt;        8.Agar mahasiswa terampil  membuat suatu prediksi perkembangan ekonomi dan    ketenaga ketenagakerjaan dalam hubungannya dengan Pendidikan Luar Sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Istruksional Perkuliahan Pendidikan Luar Sekolah S1.&lt;br /&gt;    @Memperoleh pengalaman belajar bagi mahasiswa diharapkan dapat memahami tujuan dan garis -garis besar perkuliahan perencanaan pendidikan luar sekolah.&lt;br /&gt;     @Setelah proses belajar mengajar mahasisw adiharapkan dapat memahami penertian perencanaan Pendidikan Luar Sekolah.&lt;br /&gt;       @Mahasiswa dapat memahami pendekatan Pendidikan Luar Sekolah .&lt;br /&gt;      @Mahasiswa dapat memahami bentuk -bentuk perencanaan pendidikan Luar Sekolah .&lt;br /&gt;       @Mahasiswa dapat memahami aspek-aspek perencanaan pendidikan luar sekolah .&lt;br /&gt;        @Mahasiswa dapat memahami target- target pendidikan luar sekolah. Mahasiswa dapat memahami penilaian perencanaan pendidikan Luar sekolah.&lt;br /&gt;       @Mahasiswa diharapkan dapat memehami mengenai hubungan antara kebutuhan tenaga kerja dengan jenis keterampilan yang dibutuhkan dalam menunjang perkembangan ekonomi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-630846105963290?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/630846105963290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=630846105963290' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/630846105963290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/630846105963290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/perkuliahan-pendidikan-luar-sekolah-s-1.html' title='TUJUAN  PERKULIAHAN  PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH  S1'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-299574740982383254</id><published>2008-05-30T04:28:00.000-07:00</published><updated>2008-05-30T04:47:11.125-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;MATERI SIARAN RADIO TKPLS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh Maghfiroh&lt;br /&gt;1102406015&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;            Materi siaran radio TKPLS ini adalah berisikan informasi pendidikan dan pengetahuan keterampilan serta pembentukan sikap mental yang diperlukan, meliputi bidang ipoleksosbudhankam, untuk membantu membina dan membentuk manusia Indonesia seutuhnya berdasarkan falsafah pancasila. berarti materi pelajarannya melipouti antara lain: (a) ajaran keaagamaan/kerohanian atas dasar kepercayaan kepadaa Tuhan Yang Maha Esa, (b) kehidupan do dalam keluarga dan masyarakat, (c) hak dan kewajiban sebagai warga dan mesyarakat, (d) pembinaan keluarga sejahtera; nata pencaharian, (e) keaksaraan, (f) kesehatan masyarakat, (g) lain-lain yang diperlukan oleh warga belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dari berbagai materi pelajaran tersebut Tim Pembantu Pelaksanan TKPLS menyusun kurikulum siaran dengan melibatkan: (1) staf bidang pembinaan masyarakat, (2) staf bidang pembinaan generasi muda dan olah raga, (3) seorang ahli pendidikan luar sekolah dari perguruan tinggi setempat. kurikulum siaran ini disusun setahun sekali. terdiri dari 50 program siaran dan dijabarkan ke dalam format yang meliputi:&lt;br /&gt;1. bidang kegiatan (misalnya bidang kegiatan pertanian, kesehatan, PKK dan lain-lain)&lt;br /&gt;2. seri program (misalnya bidang kegiatan kesehatan dengan seri program penyakit menular)&lt;br /&gt;3. pokok bahasan (misalnya muntaber atau malaria)&lt;br /&gt;4. tujuan di sini m,emuat aspek-aspek yang akan dicapai&lt;br /&gt;5. judul denga rumusan yang menarik (misalnya penyakit muntaber yang berbahaya)&lt;br /&gt;6. sumber bahan penulisan (sumber buku)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Materi pendidikan yang disajikan kepada warga belajar meliputi: (a) pengetahuan dasar (membaca, menulis, berhitung, dan bahasa Indonesia), (b) keterampilan kerja, (c) nilai-nilai moral yang terkandung dalam pancasila, (d) faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kehidupan warga desa meliputi kesehatan, perbaikan lingkungan, pertanian, partisipasi pembangunan, dan (e) lain-lain yang pelaksanaanya disesuaikan dengan keadaan daerah masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-299574740982383254?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/299574740982383254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=299574740982383254' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/299574740982383254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/299574740982383254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/materi-siaran-radio-tkpls-oleh.html' title=''/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-7491113822170045365</id><published>2008-05-30T03:44:00.000-07:00</published><updated>2008-05-30T03:46:24.534-07:00</updated><title type='text'>Home Scholing</title><content type='html'>&lt;p class="MsoBodyText"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Oleh : Nur Shobah 1102406014&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Di Indonesia homeschooling mulai banyak dilakukan di kota-kota besar, khususnya oleh mereka yang pernah melakukannya ketika berada di luar negeri. Dalam perkembangannya, sekolahrumah atau homeschooling juga telah menjadi salah satu pilihan keluarga/orangtua yang mungkin diakibatkan adanya pandangan atau penilaian kurang baik terhadap sekolah dan merasa lebih siap untuk menyelenggarakan pendidikan anak-anaknya sendiri di rumah.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt;Kebijakan dan Payung Hukum Homeschooling&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Sistem pendidikan nasional menyebutkan bahwa pendidikan nonformal berfungsi untuk mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan ketrampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional salah satu jenis pendidikan nonformal adalah pendidikan pilihan yang termasuk diantaranya komunitas Sekolahrumah dan pendidikan komunitas hal ini diatur undang-undang Nomor 20 Tahun 2003.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Pelaksanaan Sekolahrumah dan komunitas belajar ini dilandasi oleh peraturan perundang-undangan sebagai berikut:&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan perubahannya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Undang-undang No.32 tahun 2003 tentang Desentralisasi dan Otonomi Daerah. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Peraturan Pemerintah No.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 73 tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt;   &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0131/U/1991 tentang Paket A dan Paket B.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No.132/U/2004 tentang paket C. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt;1.2 Klasifikasi Format Homeschooling.&lt;span&gt;                                                    &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Ada beberapa klasifikasi Homeschooling yaitu:&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Homeschooling Tunggal&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adalah suatu format layanan pendidikan yang dilakukan orangtua /wali dalam suatu keluarga terhadap anak-anaknya di rumah maupun di tempat-tempat lain yang menyenangkan dimana orang tua/wali dengan sengaja tidak bergabung dengan keluargalain. Tantangan yang dihadapi Homeschooling Tunggal antara lain diambil dari komunitas sekolahrumah&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;(Direktorat Pendidikan Kesetaraan):&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Tidak ada tempat sosialisasi terutama bagi anak-anak yang memerlukan tempat mengekspresikan diri sebagai syarat pendewasaan kepribadian anak.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Tidak dukungan yang bisa menjadi tempat bertanya, berbagi dan sebagai pembanding keberhasilan proses belajar mengajar.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;  §&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Orang tua harus menyelenggarakan sendiri penilaian terhadap hasil pendidikan atau mengusahakan sendiri      kesetaraan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;dengan standar pendidikan formal atau standar yang ditetapkan komunitas Sekolahrumah yang ada.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Sekolahrumah Majemuk&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adalah suatu format layanan pendidikan yang dilaksanakan oleh orangtua/wali dari dua atau lebih keluarga yang tidak selalu saling bertalian keluarga melakukan suatu kegiatan sekolah rumah dimana kegiatannya dibentuk dan dikelola secara lebih teratur dan terstruktur.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Tantangan yang dihadapi Sekolahrumah Majemuk antara lain diambil dari komunitas sekolahrumah&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;(Direktorat Pendidikan Kesetaraan):&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Diperlukan kompromi dan fleksibilitas untuk menyesuaikan jadwal, suasana dan fasilitas tertentu yang dapat menampung beberapa anak dalam jumlah keluarga pada saat kegiatan dilaksanakaan bersama-sama.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Dalam kelompok yang lebih besar, maka anak-anak anggota sekolahrumah Majemuk harus diawasi, dibimbing atau dilatih oleh seorang yang ahli dalam bidang tertentu tersebut walaupun kehadiran orangtua harus tetap ada.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Anak-anak dengan keahlian atau kegiatan khusus harus juga bisa menyesuaikan dengan lingkungan lainnya dan menerima perbedaan-perbedaan lainnya dalam proses pembentukan jati diri.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Walaupun melakukan beberap kegiatan dengan keluarga sekolahrumah lainnya, tetapi orangtua masing-masing Sekolahrumah harus menyelenggarakan sendiri penilaian terhadap hasil pendidikan atau mengusahakan sendiri kesetaraan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;dengan standar pendidikan formal, standar pendidikan nonformal atau standar yang ditetapkan oleh komunitas Sekolahrumah yang ada.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt;   &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Sekolahrumah Komunitas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Komunitas sekolahrumah adalah gabungan sekolahrumah majemuk yang memiliki komitmen pengajaran dengan perbandingan tertentu antara komunitas dan orangtua yang menyusun dan menentukan silabus serta bahan ajar bagi anak-anak sekolahrumah termasuk menentukan beberapa aktifitas dasar (olahraga, musik/seni, dan bahasa) serta fasilitas dan proses belajar dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Kekuatan dan Kelemahan Sekolahrumah. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Kekuatan dan kelemahan homeschooling atau sekolahrumah diambil dari Pendidikan Kesetaraan mencerahkan anak bangsa (Direktorat Pendidikan Kesetaraan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Sekolahrumah atau homeschooling memiliki kekuatan sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Lebih memberikan kemandirian dan kreativitas individu tidak seperti di sekolah yang memberikan pelajaran secara klasikal.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Memberikan peluang untuk mencapai kompetensi individual semaksimal mungkin sehingga tidak selalu harus mengikuti standar kompetensi yang &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;ditentukan oleh kemampuan tertinggi, rata-rata, atau bahkan kemampuan paling rendah di kelas.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Terlindung dari tawuran, kenakalan, napza, pergaulan yang menyimpang, konsumerisme, dan jajan makanan yang malnutrisi.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Lebih bergaul dengan orang dewasa sebagai panutan.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;6.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Lebih disiapkan untuk kehidupan nyata.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;7.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Lebih didorong untuk melakukan kegiatan keagamaan, rekreasi/olahraga keluarga.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;8.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Membantu anak lebih berkembang, memahami dirinya dan perannya dalam dunia nyata disertai kebebasan berpendapat, menolak, atau menyepakati niali-nilai tertentu tanapa harus merasa takut untuk mendapat celaan dari teman atau nilai kurang.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;9.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Membelajarkan anak-anak dengan berbagai situasi, kondisi, dan lingkungan sosial.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;10.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Masih memberikan peluang berinteraksi dengan teman sebaya di luar jam belajarnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Sedangkan Kelemahan sekolahrumah adalah sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Kurang berinteraksi dengan teman sebaya dari berbagai status sosial yang memberikan pengalaman berharga untuk belajar hidup di masyarakat.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Sekolah merupakan lingkungan belajar yang khas yang dapat melatih anak bersaing dan mencapai keberhasilan setinggi-tingginya.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Sekolah di rumah dapat mengisolasi peserta didik dari kenyataan-kenyataan yang kurang menyenangkan sehingga dapat berpengaruh pada perkembangan individu.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Bila anak terisolasi dari lingkungan sosialnya yang kurang menyenangkan maka ia kan kurang siap untuk menghadapi berbagai ketidakpastian atau kesalahan.&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="left"&gt; &lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Lebih JauhTentang Homeschooling (Sekolahrumah)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt;Hal-hal yang Harus di perhatikan dalam Homeschooling.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; Keputusan untuk melakukan homeschooling atau sekolah rumah adalah suatu keputusan yang sulit, karena banyak orang tua yang tidak merasa yakin atau ragu-ragu apakah ini suatu keputusan yang benar atau tidak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Mereka khawatir anak mereka tidak mendapat pendidikan yang sama atau setidaknya sesuai dengan pendidikan sekolah formal.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum memutuskan untuk melakukan homeschooling :&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0in;"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;  &lt;p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Mencari  informasi sebanyak-banyaknya tentang homeschooling, informasi bisa didapat  dengan mengikuti seminar, bertukar pikiran dengan pelaku homeschooling,  search internet dsb.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;  &lt;p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Komitmen  antara orangtua dan anak.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Ketika melakukan homeschooling maka  orangtua harus meluangkan waktu yang lebih banyak untuk membantu pembelajaraan  anak mereka. Pembelajaran dalam homeschooling bukan seperti sekolah formal yang  mengharuskan peserta didik duduk diam mendengarkan pengarahan guru, atau  membaca setumpuk buku untuk sekian jam. Tetapi pembelajaran dalam homeschooling  bersifat dinamis dimana peserta didik diharapkan aktif terlibat dalam  mempelajari suatu bahan dimana peran orang tua atau tutor hanya sebagai &lt;em&gt;guidelines  &lt;/em&gt;untuk membantu peserta didik. &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt;  &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;3.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;Persetujuan  kedua orang tua.  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in;" class="MsoBodyText"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Dalam melakukan homeschooling kedua orangtua harus  setuju, karena apabila salah satu tidak setuju maka homeschooling tidak akan  berjalan dengan baik&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt;  &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;4.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;Anak  harus bersedia melaksanakan homeschooling.  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in;" class="MsoBodyText"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;  Keputusan untuk  melakukan homeschooling harus merupakan keinginan anak bukan hanya keinginan  orang tua karena anak atau peserta didik merupakan tokoh sentral dalam proses  pembelajaran, sehingga apabila ada keengganan dari diri anak maka proses tidak  akan berjalan maksimal.  &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt;  &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;5.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;Biaya  yang mungkin timbul.  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;  Mempertimbangkan  faktor biaya yang mungkin timbul dalam proses pembelajaran homeschooling. Biaya  yang mungkin timbul antara lain biaya pembelian kurukulum, biaya material  pembelajaran, biaya tutorial dsb.  &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;     &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt;Beberapa  Pendekatan yang sering dipakai dalam Homeschooling&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;  &lt;span style="font-weight: normal; font-size: 10pt;"&gt;Pada dasarnya  homeschooling bersifat &lt;em&gt;unique&lt;/em&gt;. Karena setiap keluarga mempunyai nilai  dan latar belakang berbeda, sehingga setiap keluarga akan melahirkan  pilihan-pilihan model homeschooling yang &lt;em&gt;unique&lt;/em&gt;. Pendekatan yang  dipakai dalam pelaksanaan homeschooling memiliki rentang yang lebar antara yang  sangat tidak terstruktur (&lt;em&gt;unschooling&lt;/em&gt;) hingga yang sangat terstruktur  seperti belajar di sekolah (&lt;em&gt;school at-home&lt;/em&gt;). &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Menurut Ransom  (2001) terdapat beberapa pendekatan yang sering dipakai dalam praktek &lt;em&gt;homeschooling&lt;/em&gt;  antara lain : &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt;a.School at-home&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="background: rgb(204, 255, 204) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; font-size: 10pt;"&gt;School  at-home approach&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; adalah model pendidikan yang serupa dengan yang  diselenggarakan di sekolah. Hanya saja, tempatnya tidak di sekolah, tetapi di  rumah. Metode ini juga sering disebut textbook approach, traditional approach,  atau school approach.  &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="line-height: 150%; font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt;b. Unit studies&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="background: rgb(204, 255, 204) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; font-size: 10pt;"&gt;Unit  studies approach&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; adalah model pendidikan yang berbasis pada tema (unit  study). Pendakatan ini banyak dipakai oleh orang tua homeschooling. Dalam  pendekatan ini, siswa tidak belajar satu mata pelajaran tertentu (matematika,  bahasa, dsb), tetapi mempelajari banyak mata pelajaran sekaligus melalui sebuah  tema yang dipelajari. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Metode ini  berkembang atas pemikiran bahwa proses belajar seharusnya terintegrasi  (integrated), bukan terpecah-pecah (segmented).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;strong&gt;c. &lt;a href="http://www.charlottemason.com/" target="_blank"&gt;Charlotte Mason&lt;/a&gt;  atau The Living Book Approach&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="background: rgb(204, 255, 204) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;a href="http://www.charlottemason.com/" target="_blank"&gt;The Living Books approach&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;  adalah model pendidikan melalui pengalaman dunia nyata. Metode ini dikembangkan  oleh Charlotte Mason. Pendekatannya dengan mengajarkan kebiasaan baik (good  habit), keterampilan dasar (membaca, menulis, matematika), serta mengekspose  anak dengan pengalaman nyata, seperti berjalan-jalan, mengunjungi museum,  berbelanja ke pasar, mencari informasi di perpustakaan, menghadiri pameran, dan  sebagainya. &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt;d. &lt;span style="color: black;"&gt;&lt;a href="http://triviumpursuit.com/articles/the_trivium_in_a_capsule.htm" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Classical&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://waldorfhomeschoolers.com/" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Waldorf&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.montessori.edu/method.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Montessori&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;, dan  Electic.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;  &lt;span style="background: rgb(204, 255, 204) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;a href="http://triviumpursuit.com/articles/the_trivium_in_a_capsule.htm" target="_blank"&gt;The Classical approach&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; adalah model pendidikan yang  dikembangkan sejak abad pertengahan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Pendekatan ini menggunakan kurikulum yang distrukturkan berdasarkan tiga  tahap perkembangan anak yang disebut Trivium. Penekanan metode ini adalah  kemampuan ekspresi verbal dan tertulis. Pendekatannya berbasis teks/literatur  (bukan gambar/image).&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="background: rgb(204, 255, 204) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;a href="http://waldorfhomeschoolers.com/" target="_blank"&gt;&lt;span&gt;The Waldorf approach&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; adalah model pendidikan yang dikembangkan  oleh Rudolph Steiner, banyak ditetapkan di sekolah-sekolah alternatif Waldorf  di Amerika. Karena Steiner berusaha menciptakan setting sekolah yang mirip  keadaan rumah, metodenya mudah diadaptasi untuk homeschool. &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="background: rgb(204, 255, 204) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;a href="http://www.montessori.edu/method.html"&gt;&lt;span&gt;The Montessori approach&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; adalah model pendidikan yang dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori.  Pendekatan ini mendorong penyiapan lingkungan pendukung yang nyata dan alami,  mengamati proses interaksi anak-anak di lingkungan, serta terus menumbuhkan  lingkungan sehingga anak-anak dapat mengembangkan potensinya, baik secara  fisik, mental, maupun spiritual.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="background: rgb(204, 255, 204) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; font-size: 10pt;"&gt;The  Eclectic approach&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; memberikan kesempatan pada keluarga untuk mendesain   &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;sendiri program homeschooling yang sesuai, dengan memilih atau  menggabungkan dari sistem yang ada. &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;e. Unschooling atau Natural Learning&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="background: rgb(204, 255, 204) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; font-size: 10pt;"&gt;Unschooling approach&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; berangkat dari keyakinan bahwa anak-anak memiliki  keinginan natural untuk belajar dan jika keinginan itu difasilitasi dan  dikenalkan dengan pengalaman di dunia nyata, maka mereka akan belajar lebih  banyak daripada melalui metode lainnya. Unschooling tidak berangkat dari  textbook, tetapi dari minat anak yang difasilitasi.&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt;Sumber-Sumber Pembelajaran&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;  Beberapa sumber pembelajaran yang dapat dijadikan sumber  acuan dalam homeschooling :  &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt;  &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;Ensiklopedia.  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt;  &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;Kamus.  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt;  &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;3.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;Atlas.  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt;  &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Referensi  buku dan Material pembelajaran.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt;  &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;5.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;Koran  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt;  &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;6.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;Majalah  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt;  &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;7.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;Perpustakaan.  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt;  &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;8.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;Mainan  Edukatif  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;" class="MsoBodyText"&gt;  &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;9.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;Software  komputer yang edukatif  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;strong&gt;Proses Pembelajaran&lt;/strong&gt;   &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Dalam proses pembelajaran orang tua harus memiliki  panduan dan format penilaian untuk menilai kemajuan anaknya. Penilaian belajar  lebih diutamakan pada proses pembelajaran. Jenis penilaian tersebut meliputi : &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0in;"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;   &lt;p&gt;   &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Performance&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; Test (Penilaian sikap), penilaian   ini lebih mengarah pada pembentukan karakter.&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;   &lt;p&gt;   &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Project :   yaitu mencatat hal-hal yang menarik tentang anak, yang dilakukan setiap   hari.&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;   &lt;p&gt;   &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Tes   Akademis, tes untuk menguji pencapaian standar kompetensi peserta didik.&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;   &lt;p&gt;   &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Portofolio,   mengumpulkan hasil karya anak.&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Dalam melakukan kegiatan belajar mengajar orangtua bisa memakai beberapa  metode berikut :&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0in;"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;   &lt;p&gt;   &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Metode Tanya Jawab&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;   &lt;p&gt;   &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Metode Diskusi&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;   &lt;p&gt;   &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Metode Ceramah&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;   &lt;p&gt;   &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Metode Cerita&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;   &lt;p&gt;   &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Metode Pengalaman Langsung&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;   &lt;p&gt;   &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Metode Belajar Tuntas&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;   &lt;p&gt;   &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Metode &lt;em&gt;Self Discovery&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-7491113822170045365?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/7491113822170045365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=7491113822170045365' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/7491113822170045365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/7491113822170045365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/home-scholing.html' title='Home Scholing'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-6562164294620240409</id><published>2008-05-30T03:32:00.000-07:00</published><updated>2008-05-30T03:34:58.672-07:00</updated><title type='text'>Jenis Pendidikan Luar Sekolah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#003366;"&gt;Oleh: Nur Shobah 1102406014&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak jenis pendidikan luar sekolah, khususnya yang berupa kursus-kursus, yang merupakan lahan kegiatan yang didominasi oleh perempuan. Sebagai contoh dapat disebutkan kursus-kursus menjahit dan memasak. Di luar itu juga terdapat kegiatan-kegiatan pelatihan di bidang-bidang khusus, seperti menenun dengan teknik dan penggunaan ragam-ragam hias tradisional, yang dipimpin oleh ibu-ibu. Kegiatan pelestarian seni dan teknik tradisi yang semula sangat 'domestik' itu kini banyak ditransformasikan menjadi kegiatan publik, di mana peserta pelajaran menenun itu, misalnya, adalah wanita-wanita muda dari manapun, tidak perlu harus anak atau sanak dari si ibu yang merupakan nara sumber.&lt;br /&gt;Pendidikan luar sekolah dapat bersifat non-formal, dalam arti tidak menggunakan struktur persekolahan dan kurikulum yang ketat, meskipun suatu sasaran tertentu ada ditetapkan. Contohnya adalah Kejar Paket A dan Kejar Paket B, serta kursusu-kursus yang mempunyai bahan ajar yang disusun secara terencana. Pada akhir kegiatan yang demikian itu biasa diberikan tanda selesai mengikuti paket atau kursus yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Di samping itu dapat juga suatu kegiatan pendidikan "luar sekolah" bersifat informal, atau 'tidak resmi', yaitu yang sama sekali tidak diikat oleh kurikulum yang ketat dan para pelakunya pun cenderung bersifat sukarela. Modus seperti ini banyak terdapat dalam upaya-upaya penerusan ilmu, kemahiran, dan atau ketrampilan dalam hal yang secara kategorik dapat disebut ekspresi folklor dan atau pengetahuan tradisional (traditional knowledge). Dalam penerusan jenis-jenis pengetahuan tertentu peranan wanita dominan, misalnya dalam peracikan obat-obatan tradisional, dalam perawatan kesehatan dan kecantikan, serta dalam perawatan bayi.&lt;br /&gt;Penyampaian pengetahuan modern mengenai kesehatan ibu dan anak pun biasanya dilakukan secara informal. Demikian juga mengenai tujuan-tujuan lain, seperti meningkatkan penghasilan keluarga, pencegahan penyakit secara umum, dll. Berbagai aktivitas dalam rangka organisasi PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga) merupakan contoh dari pendidikan jenis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Masyarakat lewat Media Massa&lt;br /&gt;Suatu aspek pendidikan yang juga amat penting adalah pendidikan masyarakat lewat media massa. Hal-hal yang disampaikan melalui berbagai jenis media massa itu, yaitu media cetak, radio, dan televisi, seringkali pada pandangan pertama dilihat sebagai semata-mata informasi (khususnya berita) dan hiburan. Namun sebenarnya perlu disadari oleh semua pihak bahwa apapun yang disampaikan melalui media massa itu akan mempunyai efek 'mendidik'. Maksudnya "mendidik" adalah dapat mengubah pemikiran, pandangan, sikap, maupun pemihakan (terhadap atau mengenai sesuatu) pada diri para konsumen yang menerima pesan-pesan melalui media massa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang 'pendidikan' melalui media massa ini pria dan wanita mempunyai peluang peran yang sama pada sisi pemancar dan pengelolanya. Namun pada sisi penerima, ibu-ibu yang mengasuh anak-anaknya di rumah mempunyai peluang lebih besar untuk memberikan panduan dalam menyerap informasi ataupun rangsangan yang disampaikan melalui media massa tersebut. Dalam hal ini ibu-ibu, atau siapapun yang berperan sebagai ibu di rumah, diharapkan dapat melatih anak-anaknya (atau warga rumahnya secara umum) agar pandai membedakan mana yang berguna dan mana yang merusak bagi suatu kehidupan manusiawi yang bermartabat. Tantangan yang harus dihadapi adalah bahwa sifat hiburan dari suatu siaran itu seringkali dapat dengan mudah menggusur nilai manfaat yang memuliakan manusia.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;    &lt;p align="right"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-6562164294620240409?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/6562164294620240409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=6562164294620240409' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/6562164294620240409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/6562164294620240409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/jenis-pendidikan-luar-sekolah.html' title='Jenis Pendidikan Luar Sekolah'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-3470296884881353797</id><published>2008-05-30T03:21:00.000-07:00</published><updated>2008-05-30T03:23:13.234-07:00</updated><title type='text'>ICT untuk Pendidikan Luar Sekolah</title><content type='html'>Oleh: Nur Shobah {1102406014}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia lndonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.&lt;br /&gt;Sistem pendidikan juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial, dan sikap menghargai jasa para pahlawan serta berkeinginan untuk maju. Iklim belajar mengajar yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri sendiri dan budaya belajar di kalangan masyarakat terus dikembangkan agar tumbuh sikap dan perilaku yang kreatif, inovatif, dan berorientasi ke masa depan dengan memanfaatkan ICT.&lt;br /&gt;Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 2 tahun 1989, sistem pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. Berdasarkan pada Undang-undangPendidikan tersebut, sistem pendidikan nasional dibedakan menjadi satuan pendidikan, jalur pendidikan, jenis pendidikan, dan jenjang pendidikan.&lt;br /&gt;Undang-Undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang tidak harus berjenjang dan bersinambungan. Satuan pendidikan luar sekolah meliputi kursus/lembaga pendidikan ketrampilan dan satuan pendidikan yang sejenis.&lt;br /&gt;Di tengah krisis ekonomi seperti sekarang, kursus/lembaga pendidikan ketrampilan ini barangkali harus lebih dikedepankan. Kegiatan kursus bukan hanya memberi harapan pada anak putus sekolah yang sulit mencari kerja tetapi juga memberikan jalan bagi banyaknya jumlah lulusan SLTA yang tak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sehingga lembaga kursus selalu mendapat tempat. Di tangan para pengelolanya, lembaga pendidikan ini bisa bergerak cepat mengikuti irama perkembangan dan tuntutan teknologi yang terjadi di masyarakat dengan menggunakan ICT.&lt;br /&gt;Begitu cepatnya antisipasi yang dilakukan para penyelenggara kursus atas tuntutan masyarakat, sangat boleh jadi, lembaga pendidikan nonformal ini tidak begitu berat terkena pukulan akibat krisis ekonomi. Menurut mereka, lulusan SMTA yang akan memasuki perguruan tinggi perlu berpikir ulang, baik mengenai biaya maupun lama waktu belajar yang harus ditempuh. Apalagi, setelah selesai kuliah, para lulusan perguruan tinggi pun belum tentu mudah mendapatkan pekerjaan. Meski kursus masih dipandang sebelah mata, anak tiri dalam sistem pendidikan di Indonesia itu kini telah tumbuh menjadi sebuah bidang usaha yang nyaris tanpa batas.&lt;br /&gt;Tidak sedikit perguruan tinggi swasta bercikal bakal dari kursus. Lembaga-lembaga kursus di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir tumbuh sangat pesat dan berkembang menjadi industri mimpi yang menggiurkan. Banyak warga masyarakat yang rela membayarkan uangnya beratus ribu atau jutaan rupiah sekadar untuk mewujudkan impian. Bahwa kemudian mimpi indah itu tidak terwujud, adalah kenyataan lain yang tidak pernah disesali.&lt;br /&gt;Berdasarkan fungsinya, jenis-jenis lembaga kursus itu dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu: pertama, sejenis Bimbingan Tes yang bertujuan meningkatkan kemampuan belajar melalui pelajaran tambahan untuk bidang-bidang tertentu seperti IPA, matematika, bahasa Inggris, dan lain-lain dengan sasaran untuk semua pelajar SDSMTA. Tapi ada yang khusus untuk pelajar pada tingkat tertentu saja, misalnya kelas III SMTA yang akan mengikuti tes UMPTN.&lt;br /&gt;Jenis kedua adalah Kursus-kursus Keterampilan yang bertujuan memberikan atau meningkatkan keterampilan mengetik, kecantikan, bahasa asing, akuntansi, montir,menjahit, sablon, babysitter, dan lain-lain. Sasaran lembaga ini mayoritas adalah para lulusan SMP dan SMTA yang memerlukan sertifikat keterampilan untuk mencari kerja.&lt;br /&gt;Jenis ketiga adalah Pengembangan Profesi, seperti kursus sekretaris atau humas perusahaan, akuntan publik, kepribadian, dan lain-lainnya. Sasarannya tamatan SMTAsampai perguruan tinggi, dari yang belum bekerja sampai yang sudah bekerja, namun ingin meningkatkan profesionalismenya. Jenis ketiga ini lebih ke arah pembentukan&lt;br /&gt;image dalam masyarakat, bukan hanya sekadar memberikan keterampilan teknis saja. Karena itu dari segi waktu pelaksanaan kursus lebih panjang (antara enam bulan sampai dua tahun).&lt;br /&gt;Selain banyak dan beragamnya jenis lembaga kursus, pembinaan terhadap lembaga ini sering menjadi masalah. Dukungan pemerintah terhadap penyelenggaraan pendidikan luar sekolah selama ini sangat minim. Padahal lembaga kursus membutuhkan dukungan yang lebih besar agar bisa berkembang, terutama menghadapi era global di mana akan terbuka peluang bagi lembaga-lembaga kursus asing masuk ke Indonesia.&lt;br /&gt;Hal ini ditambah dengan kenyataan bahwa selama ini ada kesan lembaga kursus&lt;br /&gt;diperebutkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Departemen Tenaga Kerja. Akibatnya, dalam pembinaan maupun perizinan terjadi tumpang-tindih antara keduanya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-3470296884881353797?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/3470296884881353797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=3470296884881353797' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/3470296884881353797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/3470296884881353797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/ict-untuk-pendidikan-luar-sekolah.html' title='ICT untuk Pendidikan Luar Sekolah'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-2583315707269138088</id><published>2008-05-30T03:16:00.000-07:00</published><updated>2008-05-30T03:21:00.042-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Luar Sekolah Berorientasi Perbaikan Indeks Pembangunan Manusia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;color:#000000;" &gt;Oleh: Rousemiati Julista&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;color:#000000;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1102406021&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; text-align: justify;" lang="en-US"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jakarta, Kompas - Kebijakan pendidikan luar sekolah atau jalur pendidikan nonformal diarahkan pada upaya menunjang perbaikan peringkat human development index (HDI/indeks pembangunan manusia) Indonesia. Sesuai dengan target Kabinet Indonesia Bersatu, salah satu yang menonjol adalah pemberantasan jumlah penduduk buta aksara usia 15 tahun ke atas dari sekitar 15 juta menjadi 7,5 juta dalam lima tahun ke depan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; text-align: justify;" lang="en-US"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Oleh karena itu, program kesetaraan, keaksraan, pendidikan anak usia dini, dan kecakapan hidup memerlukan keseriusan jajaran Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Depdiknas dan pihak-pihak terkait. Program-program tersebut satu sama lain berpengaruh terhadap indikator pemeringkatan HDI," ujar Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Ace Suryadi seusai lepas sambut dengan pejabat lama, Fasli Jalal, di Jakarta, Senin (23/5).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; text-align: justify;" lang="en-US"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebelumnya, Fasli-yang kini menjabat Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan-mengingatkan bahwa orientasi program-program tersebut selama ini diselaraskan dengan rencana pembangunan jangka menengah Depdiknas. Hal itu juga sejalan dengan tekad pemerintah mendongkrak posisi HDI Indonesia menjadi 90 besar dalam lima tahun ke depan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; text-align: justify;" lang="en-US"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seperti diketahui, Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) tahun 2004 memeringkatkan Indonesia pada urutan ke-111 dari 175 negara. Secara umum, komponen yang dinilai adalah pendidikan, kesehatan, dan perekonomian. Indikatornya adalah angka melek aksara orang dewasa, rata-rata lama pendidikan, usia harapan hidup, serta pendapatan per kapita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; text-align: justify;" lang="en-US"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ace berjanji menyelaraskan pola kebijakannya dengan program PLS yang dikembangkan Fasli selama ini. Program kesetaraan menyangkut akses anak-anak usia sekolah mendapatkan layanan pendidikan setara dengan persekolahan. Sasaran program ini antara lain anak jalanan, anak nelayan, dan penduduk dewasa yang ingin memperbaiki taraf hidup melalui pendidikan setara persekolahan. Adapun program keaksaraan adalah upaya membuat melek huruf penduduk usia produktif (15 tahun ke atas) yang selama ini memang tidak sempat mendapatkan layanan pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; text-align: justify;" lang="en-US"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pendidikan anak usia dini juga tak kalah pentingnya karena ketidaksiapan anak mengikuti pendidikan pada usia sekolah berpotensi melanggengkan angka putus sekolah hingga 300.000 per tahun. Kegagalan pendidikan anak usia dini sekaligus berpotensi menambah angka buta aksara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nasib guru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; text-align: justify;" lang="en-US"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tentang pola kebijakan yang bakal dikembangkan pada lembaga baru, selaku Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Fasli Jalal berjanji mengangkat kesejahteraan guru dengan mengacu pada kualifikasi dan kompetensinya. Terhadap nasib sekitar 2,6 juta guru di Tanah Air, sedang dipikirkan model pelatihan dan peningkatan kualifikasi, termasuk pendidikan profesi di universitas eks IKIP sebanyak 36-38 SKS.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; text-align: justify;" lang="en-US"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Selaku lembaga baru yang mengurusi profesionalisme guru, kami akan berkoordinasi dengan Ditjen Pendidikan Tinggi yang selama ini membina Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan," katanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ia juga menggagas pembinaan guru kelas dan guru bidang studi dari tingkat kecamatan hingga provinsi dengan menyediakan block grant. "Namun, semua rencana itu baru bisa direalisasikan setelah menata kelembagaan di tingkat pusat," ujar Fasli. (NAR) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" lang="en-US"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-2583315707269138088?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/2583315707269138088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=2583315707269138088' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/2583315707269138088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/2583315707269138088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/pendidikan-luar-sekolah-berorientasi.html' title='Pendidikan Luar Sekolah Berorientasi Perbaikan Indeks Pembangunan Manusia'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-4319054183486979201</id><published>2008-05-29T03:22:00.000-07:00</published><updated>2008-05-29T03:41:04.781-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TUJUAN TKPLS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Maghfiroh&lt;br /&gt;1102406015&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;            TKPLS adalah singkatan dari Teknologi Komunikasi pendidikan Luar Sekolah yang dalam pelaksanaannya disiarkan melalui stasiun pemancar maka kegiatan percobaan ini disebut dengan siaran radio  TKPLS, yang bertujuan:&lt;br /&gt;1. Membantu usaha pemerintah dalam pendidikan masyarakat yang bertujuan meningkatkan mitu pendidikan dengan "menghasilkan bahan-bahan belajar dalam bentuk paket-paket, rekaman suara (pita reel dan kaset suara) untuk digunakan secara massal melalui siaran radio atau denga tape recorder yang diputar langsung dikelompok belajar serta memberikan program-program untuk pemutaran dan pengayaan paket A"&lt;br /&gt;2. Mendorong dan menunjang kegaitan pendidikan luar sekolah dengan bentuk "memberikan program-program motivasi untuk mendorong dan menggygah hati warga masyarakat agar mau dan gemar belajar dan memperluas benuk pelajaran pendidikan luar sekolah melalui media komunikasi"&lt;br /&gt;3. Menghasilkan pola penyajian pendidikan luar sekolah melalui media pendidikan guna mengusahakan suatu sistem layanan pendidikan luar sekolah&lt;br /&gt;pada kegiatan belajar ini diharapkan adanya perubahan sikap dan perilaku sasaran didik (warga belajar) yang sesuai dengan pembangunan bangsa untuk meningkatkan kualitas hidupnya baik secara fisik maupun non fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sasaran dan Organisasi Pengelolaannya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;pembinaan TKPLS melalui siaran radio ini ditujukan kepada :&lt;br /&gt;1. Sasarn didik; sasarn didik (warga belajar) dari kegiatan ini terutama mereka yang dengan alasan apapun menjadi lupa dan buta huruf baik yang disebabkan karena putus sekolah dasar atau karena tidak pernah menikmati pendidikan formal, serta bagi warga masyarakat yang memerlukan peningkatan pengetahuan dan kecakapan dasar untuk memperbaiki taraf hidupnya, terutama bagi para pemuda dan orang dewasa&lt;br /&gt;2. Sasaran daerah; sasaran daerah pembinaan TKPLS dilaksanakan didaerah-daerah yang:&lt;br /&gt;terdapat kesatuan bahasa, yang maksudnya bahwa daerah tersebut mempunyai kesaman daerah dan warga belajarnya mampu menggunakan bahasa Indonesia&lt;br /&gt;adanya dukunghan dari pemerintah daerah&lt;br /&gt;3. Terdapatnya stasiun pemancar baik RRI, RPD, atay radio swasta niaga, yang dapat digunakan untuk penyiaran bahan-bahan belajar yang telah diproduksi baik didaerah maupun dari pusat&lt;br /&gt;tersedianya tenaga pembina kelompok belajar dan penilik pendidikan masyarakat untuk memkperlancar pemanfaatan program&lt;br /&gt;4. Terdapatnya kelompok-kelompok belajar yang akan memanfaatkan bahan pelajaran yang telah diproduksi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-4319054183486979201?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/4319054183486979201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=4319054183486979201' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/4319054183486979201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/4319054183486979201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/tujuan-tkpls-oleh-maghfiroh-1102406015.html' title=''/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-2408649129488728372</id><published>2008-05-28T03:29:00.000-07:00</published><updated>2008-05-28T03:52:38.224-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TEKNOLOGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Maghfiroh&lt;br /&gt;1102406015&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Pelaksanaan pembangunan masyarakat terutama yang berkaitan dengan masalah pendidikan masyarakat pedesaan, dalam era pembangunan dwasa ini perlu mendapat perhatian, karena dalam kenyataannya masih banyak terdapat anggota masyarakat yang tingkat pendidikannya relatif masih rendah, terutama di daerah pedesaan. rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, kalo kita simak banyak sekali faktor penyebabnya, antara lain yang paling mendasar dari kerendahan pendidikan tersebut adalah disebabkan faktor kesadaran akan pentingnya pendidikan baik untuk dirinya sendiri maupun untuk anggota keluarganya serta kondisi lingkungan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kedua faktor tersebut maka keadaan masyarakat khususnya di pedesaan menjadi: (1) tidak adanya kesempatan menikmati pendidikan di sekolah sehingga menjadi tidak tahu aksara dan angka, (2) putus sekolah dasar sehingga menjadi lupa huruf, (3) tidak dipunyainya keterampilan khusus terhadap suatu bidang kerja sehingga memilih kerja apa adanya, (4) kurang peka terhadap masalah yang timbul di lingkungannya sehingga menjadi orang yang apatis dan kurang dinamis          Jika kiat lihat gambaran masyarakat tersebut diatas dan kita perhatikan usaha-usaha yang pernah dilaksanakan untuk mengangkat mereka dari keterbelakangan dalam hal pendidikan, rupanya masih diperlukan adanya penyempurnaan dan penyesuaian dalam pelaksanaan pendidikan luar sekolah, khususnya pendidikan bagi pemuda dan orang dewasa yang dikonsentrasikan pada pemberantasan buta huruf dan keterampilan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Dalam rangkaian kegiatan pendidikan luar sekolah, mulai tahun 1979 Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan olah raga bekerja sama dengan pusat teknologi komunikasi pendidikan dan kebudayaan, mencoba suatu kegiatan pendidikan luar sekolah dengan menggunakan media pendidikan berbentuk kaset audio yang penyelenggaraanya disiarkan melalui stasiun pemancar baik itu Radio Republik indonesia (RRI), Radio Pemerintah Daerah (RPD) ataupun Radio Swasta Niaga (RSN) dan kegiaatn ini disebut dengan Teknologi Komunikasi Pendidikan Luar Sekolah (TKPLS). disamping menggunakan kaset audio yang disiarkan melalui stasiun pemancar, kegiatan TKPLS ditunjang pula dengan film bingkai (slide) dan film pendidikan yang sifatnya sewaktu-waktu (insidentil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Yusufhadi Miarso dkk dalam bukunya Teknologi Komunikasi Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-2408649129488728372?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/2408649129488728372/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=2408649129488728372' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/2408649129488728372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/2408649129488728372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/teknologi-komunikasi-pendidikan-luar.html' title=''/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-4314648957415991965</id><published>2008-05-24T21:48:00.000-07:00</published><updated>2008-05-24T22:50:54.714-07:00</updated><title type='text'>JURANG  PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH</title><content type='html'>Oleh: Ika umaya yasinta (1102406008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                              Pendidikan luar sekolah baik sebagai complement,suplement, maupun sebagai replacementpendidikan formal dapat melakukan banyak hal dalam menutupi jurang yang terjadi antara kebutuhan dan kenyataan tersebut.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Berbagai jurang yang timbul di masyarakat akibat tidak terjadinya keseimbangan yaitu:&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;   1. Jurang lapangan kerja.&lt;br /&gt;       a. Perambahan lapangan kerja yang tidak seimbang dengan pertambahan angkatan kerja .&lt;br /&gt;       b.Tidak sesuainya pengetahuan dan keterampilan antara tenaga kerja  dan lapangan  kerja&lt;br /&gt;    yang tersedia.&lt;br /&gt;       c. Ledakan penduduk yang mengakibatkan angkatan kerja semakin membengkak .&lt;br /&gt;       d.Terjadinya kepadatan penduduk yang tidak merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  2. Jurang efficiensi .&lt;br /&gt;   Yaitu jurang yang kegiatan pendidikan yang tidak efisien yang menimbulkan kerugian&lt;br /&gt;   ekonomi dan pemborosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3.Jurang penawaran dan permintaan .&lt;br /&gt;  Kebutuhan akan eyanan pendidikan telah sedemikian meluasnya baik pada negarberkembang  maupun negara terbelakang sehingga menimbulkan jurang antarapermintaan  dan penawaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 4.Jurang pertambahan penduduk dengan biaya hidup.&lt;br /&gt;  Pendidikan luar sekolah  dapat memainkan peranannya dalam komponen kependudukan&lt;br /&gt;  sebagai berikut&lt;br /&gt;         -Explosion .&lt;br /&gt;         -Implosion.&lt;br /&gt;         -Diversification.&lt;br /&gt;         -Change'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 5.Jurang penghasilan .&lt;br /&gt;   Pada situasi seperti ini  pendidikan luar sekolah dapat berperan untuk  menolong&lt;br /&gt;   mengembangkan keterampilan tenaga kerja dengan cara:&lt;br /&gt;            a. Didaerah pedesaan yang mempunyai banyak tenaga kerja dapat diberikan latihan-&lt;br /&gt;                latihan keterampilan sesuai yang diperlukan dari tempat kerja&lt;br /&gt;            b.Di sektor perkotaan akibat tekanan dari pengaruh industri , maka perlu diberikan&lt;br /&gt;               latihan -latihan kepada mereka tanpa mengganggu penghasilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 6. Jurang pemerataan.&lt;br /&gt;   Pendidikan luar sekolah merupakan merupakan salah satu atrnative dalam usaha utuk&lt;br /&gt;   menciptakan  pemerataan pendidikan ,dengan jalan meyajikan program -program&lt;br /&gt;   pendidikan yang fleksibeldan berdasarkan kebutuhan masyarakat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  7. Jurang penyesuaian .&lt;br /&gt;    Pendidikan luar sekolah cenderung untuk beraneka ragam dan untuk mempunyai sponsor dari berbagai jawatan isntaansi yaitu lebih cenderung bersifat penyesuaian dan pembaharuan perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  8. Jurang penilaian .&lt;br /&gt;   Jurang ini karena ini karena kesukaran dalam penilaian keterampilan individu terhadap&lt;br /&gt;   lapangan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  9. Jurang pengharapan.&lt;br /&gt;  Pendidika luar sekolah dapat menolong mengurangi jurang ini melalui masyarakat kaya&lt;br /&gt;  dengan melalui latihan sistematik /latiha,sedangkan masyarakat miskin dengan suatu&lt;br /&gt;  keterampilan yang mudah melalui kegunaan afektif pendidikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-4314648957415991965?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/4314648957415991965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=4314648957415991965' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/4314648957415991965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/4314648957415991965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/jurang-pendidikan-luar-sekolah.html' title='JURANG  PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-5287540827018752365</id><published>2008-05-22T21:04:00.000-07:00</published><updated>2008-05-22T21:07:25.399-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Luar Sekolah Patut Ditangani Komperehensif</title><content type='html'>&lt;div style="font-weight: bold; font-family: arial;" class="news-header"&gt;Oleh: Nur Shobah 1102406014&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;           &lt;div class="news-abstract"&gt;&lt;p&gt;Pendidikan Luar Sekolah (PLS) komplek dan harus sistematis, yang patut ditangani secara serius, komperehensif, terpadu serta berkelanjutan karena melibatkan berbagai komponen termasuk instansi teknis terkait.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Maka dengan makin banyak diwujudkannya pendidikan Kelompok Belajar Masyarakat (PKBM), bisa menunjang keberhasilan proses PLS, kata Kepala Bidang PLS dan Pemuda Olahraga (PLS-PO) Dinas Pendidikan kabupaten Garut, Drs Kuswendi MSi, seusai menyelenggarakan seleksi Penilik PLS Senin.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Disebutkan, didaerahnya masih terdapat kekurangan sebanyak 34 orang Penilik PLS, karena dari 419 desa selama ini ditangani 50 orang Penilik padahal idealnya oleh 84 orang Penilik, dengan rasio setiap lima desa terdapat satu orang Penilik PLS. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Namun diharapkan, dari sebanyak 185 orang peserta seleksi PLS, yang berlangsung mulai pagi hingga malam hari atau ehari semalam hari Minggu lalu itu, dapat diangkat sebanyak 34 hingga 40 orang lebih Penilik PLS, sebagai sebagai pejabat fungsional yang paling memiliki akses untuk menjadi pejabat struktural atau Kepala Unit Pengelola Teknis Daerah (UPTD) di kemudian hari.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Karena itu, agar mereka siap pakai dan berkualitas memadai disajikan tiga item materi seleksi Penilik PLS, terdiri test tertulis dengan 50 butir soal pilihan ganda, lima butir soal ujian substantif berupa esai, presentasi karya tulis serta wawancara.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Soal pilihan ganda berisikan 80 persen materi PLS, sedangkan 20 persen mengenai kelembagaan , kepemimpinan dan administrasi, ujar Kuswendi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menurutnya, ditargetkannya Indek Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2005 sebesar 66,88 poin dari tahun 2004 sebesar 66,31 poin atau hanya naik 0,57 poin maupun di bawah satu poin, karena mungkin ketika ditargetkan disesuaikan dengan kemampuan pendanaan.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Sedangkan untuk menyukseskan wajib belajar dan PLS, masih perlu peningkatan pemahaman masyarakat, bahwa pendidikan sebagai tanggungjawab bersama, pemerintah, masyarakat dan orangtua. Demikian Kuswendi.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;           sumber: John DH, garut.go.id,&lt;br /&gt;sejak dipublikasi 29/03/2005,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-5287540827018752365?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/5287540827018752365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=5287540827018752365' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/5287540827018752365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/5287540827018752365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/pendidikan-luar-sekolah-patut-ditangani.html' title='Pendidikan Luar Sekolah Patut Ditangani Komperehensif'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-998988979827385460</id><published>2008-05-22T20:43:00.000-07:00</published><updated>2008-05-30T03:27:14.959-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh:Amalia N M 1102406013&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pendidikan Luar Sekolah (PLS) ternyata telah memberi kontribusi dalam upaya menangani masalah pengangguran terutama bagi warga masyarakat yang tidak mungkin terlayani kebutuhan pendidikannya melalui jalur pendidikan formal. Demikian Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Bambang Sudibyo pada acara penyerahan sertifikat profesi SPA Terapis di Jakarta, Rabu (20/12).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Saya menghargai berbagai inisiatif yang dilakukan di lingkungan pendidikan luar sekolah, khususnya dalam mengembangkan kursus para profesi yang berorientasi kecakapan hidup untuk membelajarkan masyarakat agar memiliki kemampuan/keterampilan sebagai bekal untuk berusaha atau memasuki dunia kerja baik di dalam maupun luar negeri," ujar Bambang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurutnya, perluasan dan peningkatan mutu pendidikan kecakapan hidup penting karena terkait dengan hajat hidup orang banyak sehingga Depdiknas bersama instansi terkait lainnya seperti Depnaker membentuk lembaga yang memberikan sertifikasi kompetensi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Depdiknas, jelas Bambang, melalui Direktorat Pendidikan Luar Sekolah (PLS) juga menerbitkan sertikat kursus bagi Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT), sertifikat kecakapan hidup lainnya seperti bahasa Inggris, bidang otomotif, informasi teknologi dan sebagainya. Selain itu, Depdiknas secara bertahap akan melakukan akreditasi terhadap lembaga-lembaga kursus agar hasil dari pendidikan non-formal tersebut dapat diukur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Untuk itu, katanya, pihaknya meminta agar Pendidikan Luar Sekolah terus mendorong dan memberikan fasilitasi kepada satuan-satuan pendidikan non formal agar terus mengembangkan berbagai program inovatif yang berorientasi pada kebutuhan pasar, sekaligus melakukan kemitraan dengan berbagai &lt;i&gt;stake holder&lt;/i&gt; pendidikan guna meningkatkan mutu dan komptensi lulusannya agar memiliki sertifikasi profesi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ia mengatakan, upaya ke depan harus tetap dikembangkan agar semakin baik sehingga di era kompetisi global, tenaga kerja Indonesia mempunyai kemampuan untuk bersaing dengan tenaga kerja dari berbagai negara di dunia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Telah banyak bukti yang dicapai, salah satu bukti tersebut adalah dilakukannya upaya sistematis dan sinergis oleh pemerintah, swasta dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas lulusan pendidikan khususnya di bidang "Spa Terapist."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; "Para terapist ini telah mengikuti uji komptensi serta telah dinyatakan lulus untuk mendapat sertifikasi profesi. Selain itu, mereka telah diterima kerja atau magang di luar negeri untuk meningkatkan kemampuan dan daya saingnya," imbuhnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-998988979827385460?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/998988979827385460/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=998988979827385460' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/998988979827385460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/998988979827385460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/olehamalia-n-m-1102406013-pendidikan.html' title=''/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-2821188173755848230</id><published>2008-05-22T20:34:00.000-07:00</published><updated>2008-05-22T20:36:11.825-07:00</updated><title type='text'>BALAI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DAN PEMU</title><content type='html'>&lt;div class="teks12putih" align="left"&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;b&gt;BPPLSP REGIONAL V MAKASSAR&lt;/b&gt; Sejarah lahirnya Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BPPLSP) Regional V Makassar berasal dari Bidang Pendidikan Masyarakat (Dikmas) yang merupakan salah satu bidang di Kanwil Depdikbud Propinsi Sulawesi Selatan. Bidang Dikmas dipimpin oleh seorang Kepala Bidang (Kepala Bidang Dikmas) yang membawahi empat kelompok kerja yaitu; (1) Tenaga Teknis, (2) Bina Program, (3) Bina Sarana, (4) Supervisi Pelaporan, Evaluasi dan Monitoring (SPEM). Disamping itu, kepala bidang dikmas mengelola Balai Pendidikan Masyarakat (Balai Dikmas) Sulawesi Selatan yang pada saat itu diserahi tugas melaksanakan Proyek Pendidikan Non Formal (PNF).&lt;br /&gt;Dengan terbitnya SK. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 022/O/1991 tanggal 20 Februari 1991, maka Balai Dikmas beralih menjadi Balai Pengembangan Kegiatan Belajar&lt;br /&gt;Oleh: NUR SHOBAH 1102406014&lt;br /&gt;(BPKB). BPKB merupakan UPT Ditken Diklusepora yang memiliki tugas melaksanakan pengembangan, bimbingan, dan ujicoba program pendidikan luar sekolah, pemuda dan olahraga berdasarkan kebijakan Ditjen Diklusepora. BPKB Sulawesi Selatan mewilayahi empat propinsi, yaitu; Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.&lt;br /&gt;Setelah enam tahun BPKB Sulawesi Selatan berkiprah melaksanakan tugas dan fungsinya lahirlah SK Menteri Pendidikan Nasional No. 115/O/2003 tanggal 31 Juli 2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja BPPLSP, yang meningkatkan status BPKB Sulawesi Selatan menjadi Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BPPLSP) Regional V, dengan delapan propinsi wilayah kerja, yaitu; Propinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, dan Propinsi Papua. &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;                                         &lt;p&gt; &lt;/p&gt;           &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-2821188173755848230?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/2821188173755848230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=2821188173755848230' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/2821188173755848230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/2821188173755848230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/balai-pengembangan-pendidikan-luar.html' title='BALAI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DAN PEMU'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-2105912324478520878</id><published>2008-05-22T20:28:00.000-07:00</published><updated>2008-05-22T20:32:07.227-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>oleh:SA'ADATUL ATHIYAH&lt;br /&gt;Globalisasi berarti interaksi terbuka tanpa batas wilayah dan geografis yang jelas. Masyarakat di suatu daerah dapat berinteraksi secara sosial dan ekonomi dengan masyarakat lain di belahan bumi lainnya tanpa kendala yang berarti.&lt;br /&gt;Untuk mencegahnya?! Sebaiknya tidak usah repot dipikirkan. Karena kekuatannya yang sangat dahsyat, hampir mustahil upaya pencegahannya dilakukan. Lagi pula fenomena tersebut merupakan konsekuensi logis dari perkembangan dan kemajuan peradaban manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;Sejak ada di muka bumi, manusia menyatu dengan sifat dasarnya yang serba ingin tahu. Dan itu adalah berkah dari Allah SWT-Tuhan semesta alam, karena dengan hal itu manusia menapaki berbagai kemajuan dalam menjalani kehidupannya. Dan kemajuannya dalam hal bagaimana cara berinteraksi dengan sesama manusia menjelma dalam fenomena yang kita sebut dengan globalisasi. Bukankah secara mendasar manusia juga perlu berinteraksi dengan manusia lain ?! Zoon politicon-manusia merupakan makhluk sosial, demikian kata filsuf Aristoteles.&lt;br /&gt;Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat tetap survive dalam globalisasi. Menyangkut hal ini, penulis melihat adanya keterkaitan yang sangat erat dengan pendidikan. Karena survive dalam globalisasi sangat berkaitan dengan sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang unggul akan dapat survive, atau malah dapat memanfaatkan fenomena globalisasi menjadi suatu kekuatan yang sangat dahsyat. Begitu sebaliknya, sumber daya manusia yang lemah hanya akan tertindas dan merasakan kesulitan hidup karena tidak dapat bersaing dengan yang lainnya. Pendidikan adalah sarana peningkatan sumber daya manusia yang dimaksud. Karenanya penulis akan membahas keterkaitan antara globalisasi dan pendidikan, khususnya pendidikan luar sekolah.&lt;br /&gt;Jalur Pendidikan&lt;br /&gt;Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar manusia secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki pengetahuan, mental serta keterampilan yang diperlukannya dalam menjalani kehidupan.&lt;br /&gt;Menurut Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan dibagi menjadi 3 (tiga) jalur, yaitu pendidikan formal, non formal dan informal.&lt;br /&gt;Pertama, pendidikan formal, yaitu jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.&lt;br /&gt;Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar, yang terdiri atas pendidikan menengah umum, misalnya Sekolah Menangah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA), serta pendidikan menengah kejuruan, misalnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).&lt;br /&gt;Sedangkan pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor.&lt;br /&gt;Kedua, pendidikan non-formal yang merupakan jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, seperti Paket A, Paket B dan Paket C, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.&lt;br /&gt;Pendidikan non formal sendiri berfungsi sebagai pengganti, penambah ataupun pelengkap dari pendidikan formal. Sebagai subtitute pendidikan formal, artinya pendidikan non formal dilaksanakan sebagai pengganti pendidikan formal bagi masyarakat yang karena alasan tertentu (seperti biaya pendidikan), sehingga tidak dapat mengikuti pendidikan formal. Contohnya Kejar Paket A setara SD, Paket B setara SMP dan Paket C setara SMA.&lt;br /&gt;Sebagai supplement dan complement pendidikan formal, yaitu sebagai penambah dan pelengkap pengetahuan dan keterampilan yang masih kurang didapatkan dari pendidikan di sekolah (pendidikan formal). Misalnya kursus, bimbingan studi, training dan lainnya.&lt;br /&gt;Lembaga pendidikan non formal misalnya seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.&lt;br /&gt;Ketiga, pendidikan informal, yaitu pendidikan yang dilakukan keluarga dan lingkungan. Sebelumnya, jalur pendidikan hanya dibagi menjadi 2 (dua), yaitu pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Hal ini diatur dalam Undang-undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sitem Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;Namun ada sedikit perbedaan dengan ditetapkannya Undang-undang yang baru, yaitu No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan sekolah disebut dengan pendidikan formal, sedangkan pendidikan luar sekolah dibagi menjadi pendidikan non formal dan informal.&lt;br /&gt;Karena kebiasaan penggunaan istilah, sampai saat ini istilah pendidikan luar sekolah masih sering digunakan. Bahkan dalam struktur pemerintahan pada Dinas Pendidikan, istilah pendidikan luar sekolah masih digunakan sampai saat ini. Dengan alasan itulah penulis menggunakan istilah tersebut.&lt;br /&gt;Pendidikan Luar Sekolah&lt;br /&gt;Dari berbagai jalur pendidikan tersebut, memang pendidikan sekolah merupakan jalur yang paling dominan dan diutamakan. Mungkin akan sangat gampang jika kita ingat-ingat fenomena pendidikan di tengah masyarakat, bagaimana pendidikan sekolah secara umum hampir menjadi 'siklus wajib' kehidupan seseorang. Ketika sudah berusia 6 tahun maka harus masuk ke Sekolah Dasar (SD), setelah lulus akan mendaftar ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), kemudian ke Sekolah Menengah Atas (SMA), lalu ke Perguruan Tinggi. Di luar sekolah tersebut, dapat saja seseorang mengikuti bimbingan studi, kursus bahasa asing ataupun komputer misalnya yang sifatnya hanya tambahan.&lt;br /&gt;Paradigma tersebut tidak dapat dianggap salah, karena pendidikan sekolah adalah yang utama dan pendidikan luar sekolah bersifat pelengkap ataupun tambahan. Namun karena pendidikan sekolah sudah dianggap sesuatu hal yang 'wajib' dan primer dalam proses pendidikan, karenanya penulis tidak akan membahasnya lagi.&lt;br /&gt;Menyangkut fenomena globalisasi, penulis akan membahas 2 (dua) konteks penting yang sangat erat kaitannya dengan pendidikan luar sekolah.&lt;br /&gt;Pertama, globalisasi berarti persaingan terbuka. Persaingan dalam bidang apa pun yang bermuara pada persaingan sumber daya manusia. Pertanyaannya adalah, siapkah sumber daya manusia kita bersaing secara terbuka dengan orang lain secara terbuka? Pertanyaan yang lumayan 'menakutkan' sehingga cukup untuk mengernyitkan dahi kita.&lt;br /&gt;Yah, siap ataupun tidak jalan terbaik adalah terus mempersiapkan diri meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada.&lt;br /&gt;Tuntutan akan kemampuan lebih dalam persaingan, tidak memungkinkan pendidikan sekolah untuk dapat memenuhinya secara baik. Karenanya, pendidikan luar sekolah mengambil peran yang sangat signifikan sebagai media subtitute, supplement dan complement agar kualitas sumber daya manusia dapat meningkat dengan baik. Sejak dini anak-anak sudah harus belajar dalam kelompok bermain, kemudian kursus bahasa asing, bimbingan studi, kursus komputer dan pengasahan kemampuan lainnya.&lt;br /&gt;Kedua, globalisasi berarti interaksi sosial terbuka. Berbagai informasi tentang budaya lain tidak akan mungkin terbendung. Dalam keadaan seperti ini, filterisasi budaya baik dan yang dianggap kurang baik hanya dapat dilakukan oleh penilaian manusianya sendiri. Penilaian itulah yang dipengaruhi oleh mental dan spiritual manusia yang bersangkutan. Dalam kaitan inilah pendidikan luar sekolah, khususnya pendidikan keluarga dan lingkungan akan sangat diperlukan.&lt;br /&gt;Pembinaan mental dan spiritual banyak dibina di kehidupan keluarga dan lingkungannya. Penanaman nilai baik-buruk, benar-salah dan sebagainya dominan dibentuk dalam interaksinya sehari-hari dalam realitas kehidupannya.&lt;br /&gt;Kedua hal ini merupakan hal penting yang menunjukkan keterkaitan antara pendidikan luar sekolah dengan globalisasi. Dengan keterkaitan ini pula, tampak jelas bahwa pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan sesuatu yang integral dalam melakukan proses pendidikan.&lt;br /&gt;Hanya dengan begitu tujuan pendidikan untuk berkembangnya potensi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab seperti yang diamanatkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 dapat terwujud.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-2105912324478520878?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/2105912324478520878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=2105912324478520878' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/2105912324478520878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/2105912324478520878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/olehsaadatul-athiyah-globalisasi.html' title=''/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-5923954090375616835</id><published>2008-05-22T20:22:00.000-07:00</published><updated>2008-05-22T20:24:54.090-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;     Pendidikan Luar Sekolah sebagai Pendidikan Masyarakat        &lt;/td&gt;        &lt;td class="buttonheading" align="right" width="100%"&gt;    &lt;a href="javascript:void window.open('http://semarang.go.id/cms/index2.php?option=com_content&amp;do_pdf=1&amp;id=154', 'win2', 'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no');" title="PDF"&gt;    &lt;img src="http://semarang.go.id/cms/images/M_images/pdf_button.png" alt="PDF" name="image" align="middle" border="0" /&gt;   &lt;/a&gt;    &lt;/td&gt;        &lt;td class="buttonheading" align="right" width="100%"&gt;     &lt;a href="javascript:void window.open('http://semarang.go.id/cms/index2.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=154&amp;Itemid=0&amp;pop=1&amp;page=0', 'win2', 'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no');" title="Print"&gt;     &lt;img src="http://semarang.go.id/cms/images/M_images/printButton.png" alt="Print" name="image" align="middle" border="0" /&gt;    &lt;/a&gt;     &lt;/td&gt;        &lt;td class="buttonheading" align="right" width="100%"&gt;    &lt;a href="javascript:void window.open('http://semarang.go.id/cms/index2.php?option=com_content&amp;task=emailform&amp;id=154', 'win2', 'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=400,height=250,directories=no,location=no');" title="E-mail"&gt;    &lt;img src="http://semarang.go.id/cms/images/M_images/emailButton.png" alt="E-mail" name="image" align="middle" border="0" /&gt;   &lt;/a&gt;    &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;    &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;            &lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td colspan="2" align="left" valign="top" width="70%"&gt;    &lt;span class="small"&gt;     Ditulis Oleh: infokom   &lt;/span&gt;          &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" class="createdate" valign="top"&gt;     Saturday, 15 July 2006    &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;    &lt;td colspan="2" valign="top"&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;“Pendidikan non formal sebagai pendidikan luar sekolah harus menyatu dengan masyarakat sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ungkap Dirjen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Ace Suryadi saat presentasi di Kota Semarang (14/7). Pada kesempatan itu Ace mengatakan melalui pendidikan luar sekolah yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perubahan kondisi masyarakat diharapkan dapat melakukan berbagai inovasi dengan sumber daya manusia (SDM) yang ada, maka pendidikan non formal itu perlu dikembangkan tidak hanya melalui pendidikan non formal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table style="border-width: 0px; border-collapse: collapse;color:#111111;" border="1" border cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="border: medium none ;color:#008080;" bg width="100%"&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" class="MsoTitle" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;Pendidikan Luar Sekolah sebagai Pendidikan Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="border-style: none; border-color: -moz-use-text-color rgb(17, 17, 17); border-width: medium;" width="100%"&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; text-align: center;" class="MsoNormal" align="center"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" class="MsoBodyText" align="justify"&gt;&lt;img src="http://semarang.go.id/infokom/image/06-07-15%20kunjungan%20dirjen%20pls.jpg" alt="" align="right" border="0" height="175" width="263" /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;“Pendidikan non formal sebagai pendidikan luar sekolah harus menyatu dengan masyarakat sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ungkap Dirjen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Ace Suryadi saat presentasi di Kota Semarang (14/7). Pada kesempatan itu Ace mengatakan melalui pendidikan luar sekolah yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perubahan kondisi masyarakat diharapkan dapat melakukan berbagai inovasi dengan sumber daya manusia (SDM) yang ada, maka pendidikan non formal itu perlu dikembangkan tidak hanya melalui pendidikan non formal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" class="MsoBodyText" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;            Dalam presentasinya Dirjen PLS menyambut positif langkah pemerintah kota mengenai gagasan Ketua TP PKK Kota Semarang tentang pembuatan rumah pintar di tiap kecamatan, “Ini merupakan ide yang cerdas untuk mendekatkan persoalan pendidikan non formal dengan masyarakat, sehingga masyarakat menyukai untuk bergabung dan senang dengan suasana pendidikan itu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-5923954090375616835?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/5923954090375616835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=5923954090375616835' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/5923954090375616835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/5923954090375616835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/pendidikan-luar-sekolah-sebagai.html' title=''/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-2862080415778421970</id><published>2008-05-22T20:00:00.000-07:00</published><updated>2008-05-22T20:24:25.664-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oleh: Amalia N M ( 1102406013 )&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pendidikan luar sekolah sekarang ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan siswa yang harus diikuti terutama bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar. Jenis-jenis pendidikan luar sekolah antara lain: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;1. Pendidikan agama (mengaji) 2. Kursus Bahasa Inggris 3. Kursus Komputer 4. Kursus menggambar, menari, dan seni lainnya 5. Kursus menjahit 6. Kursus mengetik non-komputer 7. Kursus memasak dst. Kenapa pendidikan luar sekolah penting diagendakan. Ya, tanpa tambahan pengetahuan di luar apa yang diperoleh di sekolah, faktanya siswa akan ketinggalan pengetahuan dengan siswa sebayanya yang sudah terlebih dahulu mengisi waktunya di luar jam-jam sekolah. Contoh siswa yang mengikuti kursus matematika akan tampak memiliki nilai tambah dibanding mereka yang tidak mengikuti les tambahan di bidang matematika itu. Begitu juga dalam bisa bahasa Inggris. Kenapa demikian? Jawabanya bisa bermacam-macam, tapi yang pasti siswa akan lebih percaya diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-2862080415778421970?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/2862080415778421970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=2862080415778421970' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/2862080415778421970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/2862080415778421970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/oleh-amalia-n-m-1102406013-pendidikan.html' title=''/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-587138480157019175</id><published>2008-05-22T05:17:00.000-07:00</published><updated>2008-05-22T05:19:50.040-07:00</updated><title type='text'>Anggaran Terbesar untuk Pendidikan Luar Sekolah</title><content type='html'>oleh: Rousemiati Julista (1102406021)  &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Jakarta, Sinar Harapan&lt;br /&gt;Masalah pendidikan yang kini dihadapi Indonesia adalah rendahnya kualitas lulusan tenaga kerja Indonesia. Selain itu, masih banyak masyarakat yang buta huruf. Depdiknas akan memberikan anggaran terbesar untuk pendidikan luar sekolah dan pemuda, di antaranya untuk mengatasi masalah buta huruf ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian dikatakan Dirjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Depdiknas, Fasli Jalal di Jakarta, Selasa (27/8). Dikatakan, dalam struktur tenaga kerja Indonesia, sebanyak 63,5% pemuda hanya berpendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah&lt;br /&gt;Menurut Fasli, setiap tahunnya terjadi penambahan angkatan kerja baru lebih dari 2 juta orang, namun yang terserap di lapangan kerja baik di sektor formal maupun informal rata-rata hanya sekitar 20%.&lt;br /&gt;”Rendahnya daya serap ini bukan semata-mata karena sempitnya lapangan kerja, akan tetapi kompetensi/ketrampilan yang diinginkan oleh lembaga penerima tenaga kerja tidak terpenuhi oleh sebagian besar pencari kerja,” ujarnya.&lt;br /&gt;Sektor pertanian dan perikanan tetap merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja muda, lanjutnya. Di daerah pedesaan, sebanyak 63,78% di antara pemuda bekerja di sektor pertanian. Sementara itu, pemuda yang bekerja di perkotaan dengan status sebagai buruh/karyawan 61,02% dan yang berusaha sendiri 16,93%.&lt;br /&gt;Penduduk yang buta huruf juga tak kalah banyaknya, Fasli menambahkan. Penduduk yang buta huruf usia sepuluh tahun ke atas sekitar 18,7 juta jiwa dan untuk kelompok usia 10—44 tahun mencapai 5,9 juta jiwa.&lt;br /&gt;Dari hasil Susenas 2001, pemuda yang buta huruf 2,97%. Pemuda yang tidak dapat membaca dan menulis di daerah pedesaan mencapai 4,45% dan di perkotaan 1,30%.&lt;br /&gt;Hasil Susenas 2001 menggambarkan ada sebanyak 8147% pemuda yang putus sekolah dan 2,59% yang tidak atau belum pernah sekolah. Hal ini berarti, dari seratus pemuda ada sekitar tiga yang belum pernah sama sekali mengecap pendidikan sekolah. Dua per tiga dari jumlah yang tidak bersekolah adalah pemuda perempuan.&lt;br /&gt;”Jumlah buta huruf ini tiap tahun akan bertambah karena munculnya kelompok buta huruf baru. Kelompok buta huruf baru ini adalah mereka yang putus sekolah. Dan tahun depan diperkirakan jumlah buta huruf di Indonesia akan bertambah sekitar 250.000 orang,” ujar Fasli.&lt;br /&gt;Untuk itu Fasli menyambut baik kebijakan pemerintah yang akan meningkatkan anggaran sebesar 20% dari APBN untuk sektor pendidikan. Dan bila hal tersebut direalisasikan, maka Depdiknas akan memberikan anggaran terbesar untuk pendidikan luar sekolah dan pemuda. Fasli sendiri akan memfokuskan perhatiannya untuk mengatasi masalah buta huruf ini.&lt;br /&gt;Tahun 2002 pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp109 miliar untuk bidang pendidikan luar sekolah. Dana tersebut disalurkan kepada masyarakat dalam dua program utama, yakni Program Penanggulangan Dampak pengurangan Subsidi Energi (PPD-PSE) sebesar Rp59 miliar dan Program Ketrampilan Hidup melalui pendekatan pendidikan berbasis luas sebesar Rp 50 miliar.&lt;br /&gt;Dana PPD-PSE disalurkan kepada masyarakat dalam bentuk dana bantuan khusus kepada warga belajar (DBK-WB), bantuan khusus kepada tutor, bantuan khusus kepada pusat kegiatan belajar masyarakat, bantuan khusus kepada anak jalanan dan dana pengamanan program.&lt;br /&gt;Untuk DBK-WB yang di dalamnya ada program kejar paket A dan paket B, sampai dengan 27 Agustus ini telah disalurkan dana sebesar Rp 26,24 miliar kepada 219.133 warga belajar. Dana untuk tutor hingga saat ini sudah mencapai Rp 5,99 miliar untuk 9.975 tutor.&lt;br /&gt;Fasli menambahkan, tahun depan Diknas dalam hal ini Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, akan menambah jumlah tutor. Ada sekitar 5.100 tutor yang akan direkrut. Para tutor itu akan memperoleh gaji sebesar Rp 125.000 per bulan dengan status kontrak, bukan PNS. (van)&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-587138480157019175?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/587138480157019175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=587138480157019175' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/587138480157019175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/587138480157019175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/anggaran-terbesar-untuk-pendidikan-luar.html' title='Anggaran Terbesar untuk Pendidikan Luar Sekolah'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-6795456138045378834</id><published>2008-05-22T05:11:00.000-07:00</published><updated>2008-05-22T05:21:29.342-07:00</updated><title type='text'>Talkshow Radio VI Tahun III “Eksistensi Pendidikan Luar Sekolah sebagai Pendidikan Alternatif di Masyarakat.</title><content type='html'>oleh: Rousemiati Julista (1102406021)&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;Kegiatan Talkshow VI Sekolah Demokrasi di RRI Malang pada hari Kamis, tanggal 24 April 2008, pukul 08.00 – 09.00 WIB on air dengan narasumber :1. Dewi Ruhillah, peserta SD angkatan tahun III dan PNS di UPTD Pendidikan Luar Sekolah; 2.Ning Huriyah, peserta SD angkatan tahun III dan guru; 3. Husnul Hakim Sadad, peserta SD angkatan tahun III dan LSM KKK Malang.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;Hak mendapatkan pendidikan adalah hak asasi manusia yang harus senantiasa dijamin keberadaannya. Oleh karena itu pendidikan harus menjadi milik semua orang. Pada dasarnya pendidikan merupakan segala upaya untuk menggali potensi otentik kemanusiaan. Penggalian potensi otentik kemanusiaan itu harus bersamaan dengan upaya pembebasan manusia dari belenggu-belenggu yang menimpa diri manusia itu sendiri. Belenggu tersebut bisa berujud sebagai belenggu sosial, belenggu ekonomi dan belenggu ilmu pengetahuan baik bersifat fisik maupun non fisik.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang dapat di didik dan juga dapat mendidik. Oleh karena itu pendidikan dapat dilakukan oleh semua orang, kapan saja dan dimana saja tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Proses pendidikan ini berlangsung pada proses komunikasi yang dilakukan secara sadar dan penuh tanggung jawab. Namun dalam praksis, sistem pendidikan konvensional yang diselenggarakan dengan berbagai modifikasinya ternyata semakin mengungkung orang yang dididiknya. Hasilnya justru membuat orang tidak berani untuk berfikir lain diluar kerangka besar yang disetting oleh penguasa. Orang digiring untuk meyakini bahwa berpikir dan bertindak diluar wacana besar adalah berbahaya dan berdosa. Pendidikan dijadikan sebagai proses penjinakan akibatnya, keluaran yang dihasilkan dari sistem pendidikan semacam ini adalah manusia yang berpikir dan berkemauan seragam dalam segala hal.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;Proses penyelenggaraan pendidikan yang umum berlaku telah mengabaikan prinsip-prinsip kebajikan. Sistem pendidikan benar-benar telah mengabaikan potensi individual/lokal. Yang lebih memprihatinkan lagi bahwa pembangunan sistem pendidikan tidak pernah bertolak dari dunia realitas yang ada. Akibatnya, orang yang dididik dalam sistem ini akan semakin jauh dan kian terasing dengan realitasnya. Pendidikan formal yang sudah terpaket sedemikian rupa tidak memberi peluang kepada peserta didik untuk berpartisipasi dalam menyusun kurikulum yang disajikan. Pendidikan juga terus mengalami penyempitan pengertian. Assumsi yang muncul dibenak mesyarakat umum tentang pendidikan adalah gambaran bangunan permanen sebuah sekolah, siswa berbaju seragam yang duduk rapi berhadapan dengan seorang guru dalam kelas, dan selembar ijazah sebagai hasil dari proses pendidikan sekian tahun. Pendidikan menjadi komoditas yang sangat elitis dan mahal. Pendidikan hanya bisa dilakukan pada suatu tempat dan waktu tertentu, serta dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Akibatnya, mereka yang dilahirkan dan terpuruk di kantong-kantong kemiskinan kian tersingkir posisinya (ternistaapakan).  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;Berangkat dari keprihatinan yang telah diuraikan diatas, maka menjadi mutlak untuk melakukan tindakan konkrit untuk mengembalikan gagasan pendidikan pada hakikat yang sesungguhnya. Pendidikan yang beranjak dari penggalian potensi diri manusia, yang tidak lagi dibatasi matra ruang dan waktu. Pendidikan yang bisa dilakukan kapan dan dimana saja, serta dilakukan oleh dan untuk siapa saja: suatu sistem pendidikan yang mampu menumbuhkembangkan nilai-nilai kebajikan pari purna bagi semua elemen yang terlibat didalamnya baik penyelenggara maupun masyarakat. Kebajikan yang dapat membangun kerendahan hati, keluhuran budi dan keperkasaan jiwa.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;Pendidikan alternative dengan penyelenggaraan pendidikan yang partisipatif yaitu pendidikan yang melibatkan peserta didik dalam mengambil keputusan, dimana proses pendidikannya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu pendidikan alternative memberikan kesempatan bagi seseorang atau atau kelompok untuk dapat menimba ilmu dan mengembangkan pengetahuan, sikap ketrampilan dan nilai-nilai sehingga memungkinkan untuk berperan serta secara efisien dan efektif dalam lingkungan keluarganya, masyarakat, dan bahkan negaranya. Pendidikan alternative juga upaya penyelenggaraan pendidikan yang partisipatif yaitu pendidikan yang melibatkan peserta didik dalam mengambil keputusan, yang proses pendidikannya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-6795456138045378834?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/6795456138045378834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=6795456138045378834' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/6795456138045378834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/6795456138045378834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/talkshow-radio-vi-tahun-iii-eksistensi.html' title='Talkshow Radio VI Tahun III “Eksistensi Pendidikan Luar Sekolah sebagai Pendidikan Alternatif di Masyarakat.'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-4227579311627477461</id><published>2008-05-22T04:48:00.001-07:00</published><updated>2008-05-22T04:57:16.199-07:00</updated><title type='text'>Aplikasi Andragogi dalam Pembelajaran pendidikan Non Formal</title><content type='html'>&lt;div class="date"&gt;oleh : Nur Shobah 1102406014&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 10 Oktober 2006&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;             &lt;div class="subtitle"&gt;Bagaimana Tutor dalam penerapan andragogi?&lt;/div&gt;             &lt;div class="title"&gt;Aplikasi Andragogi Dalam Pembelajaran Pendidikan Non Formal&lt;/div&gt;&lt;div class="detail"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Permasalahan yang paling sering muncul dalam pelaksanaan pendidikan luar sekolah adalah hasil belajar, output dan outcomenya. Ketidakmampuan peserta memahami dengan baik materi dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan keterampilan merupakan indikasi kurang berhasilnya kegiatan pendidikan luar sekolah. Rendahnya hasil belajar sebagai indikator dari ketidakberhasilan pembelajaran, dimana peserta maupun tidak mampu menerima dengan baik bahan belajar yang diajarkan oleh tutor. Salah satu penyebab ketidakberhasilan pembelajaran pendidikan luar sekolah adalah metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan prosedur pelaksanaannya dan andragogi belum diterapkan secara maksimal dalam pelaksanaan pembelajaran.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Secara jelas Knowles (1979) menyatakan apabila peserta didik (baca: warga belajar) telah berumur 17 tahun, penerapan prinsip andragogi dalam kegiatan pembelajarannya telah menjadi suatu kelayakan. Usia warga belajar pada kelompok belajar program PLS rata-rata di atas 17 tahun, sehingga dengan sendirinya penerapan prinsip andragogi pada kegiatan pembelajarannya semestinya diterapkan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Perlunya penerapan prinsip andragogi dalam pendekatan pembelajaran orang dewasa dikarenakan upaya membelajarkan orang dewasa berbeda dengan upaya membelajarkan anak. Membelajarkan anak (&lt;em&gt;pedagogi&lt;/em&gt;) lebih banyak merupakan upaya &lt;em&gt;mentransmisikan&lt;/em&gt; sejumlah pengalaman dan keterampilan dalam rangka mempersiapkan anak untuk menghadapi kehidupan di masa datang. Apa yang di transmisikan didasarkan pada pertimbangan warga belajar sendiri, apakah hal tersebut akan bermanfaat bagi warga belajar di masa datang. Sebaliknya, pembelajar-an orang dewasa (andragogi) lebih menekankan pada membimbing dan membantu orang dewasa untuk menemukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam rangka memecahkan, masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya. Ketepatan pendekatan yang digunakan dalam penyelenggaraan suatu kegiatan pembelajaran tentu akan mempengaruhi hasil belajar warga belajar.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Perbedaan antara membelajarkan anak-anak dengan membelajarkan orang dewasa terlihat dari upaya pembelajaran orang dewasa. membelajarkan orang dewasa berpusat pada warga belajar itu sendiri (&lt;em&gt;learned centered&lt;/em&gt;). Tutor harus memperhatikan prinsip-prinsip belajar orang dewasa. Prinsip tersebut dijadikan pegangan atau panduan dalam praktek membimbing kegiatan belajar orang dewasa. Pendekatan-pendekatan pembelajaran orang dewasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip belajarnya dapat dipandang sebagai ilmu dan seni (&lt;em&gt;art and science&lt;/em&gt;) membantu atau menolong orang dewasa belajar.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: center;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Orang Dewasa Sebagai Warga Belajar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Cara belajar orang dewasa jauh berbeda dengan cara belajar anak-anak. Olehnya itu, proses penyelenggaraan belajar bagi orang dewasa harus didekati dengan cara yang berbeda pula. Menyamakan pendekatan pendidikan anak dengan pendekatan pendidikan orang dewasa dapat mengakibatkan kegiatan pendidikan tersebut menjadi suatu hal yang menyakitkan bagi orang dewasa. Kondisi yang menyakitkan tersebut tentu akan sulit untuk mengharapkan hasil belajar yang maksimal.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Menurut Knowles (1979), perbedaan antara anak-anak dan orang dewasa dalam belajar didasarkan pada empat asumsi tentang orang dewasai. Asumsi-asumsi tersebut ialah: (1) orang dewasa mempunyai pengalaman yang berbeda dengan anak-anak, (2) orang dewasa mempunyai konsep diri, (3) orang dewasa mempunyai orientasi belajar yang berbeda dengan anak-anak, dan (4) orang dewasa mempunyai kesiapan untuk belajar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Orang dewasa dalam belajar jauh berbeda dengan anak-anak, Seharusnya menggunakan pendekatan yang berbeda pula dalam membelajarkan anak. Pendekatan yang layak adalah pendekatan andragogi. Bila dihubungkan dengan penyelenggaraan pendidikan yang terorganisir di kelompok belajar, maka pendekatan andragogi akan semakin terasa pentingnya. Sebab setiap kegiatan yang terorganisir sudah tentu mempunyai atau didasarkan pada pedoman-pedoman tertentu. Pedoman inilah yang menjadi prinsip-prinsip kerja agar kegiatan berjalan pada prosedur yang benar dan sesuai dengan tujuan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: center;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Penerapan Andragogi dalam performansi Tutor&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tutor sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran orang dewasa. Tutor memasuki kelas dengan bekal sejumlah pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan dan pengalaman ini seharusnya melebihi dari yang dimiliki oleh peserta. Seorang tutor dengan pengetahuan dan pengalamannya itu tidaklah cukup untuk membuat peserta untuk berperilaku belajar dalam kelas melainkan sikap tutor sangatlah penting. Seorang tutor bukan merupakan "pemaksa" untuk terjadinya pengaruh terhadap peserta, namun pengaruh itu timbul karena adanya keterlibatan mereka dalam kegiatan belajar. Untuk mengusahakan adanya perubahan, tutor hendaknya bersikap positif terhadap warga belajar.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Sikap seorang tutor mempunyai arti dan pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku warga belajar dalam kegiatan pembelajaran. Umumnya tutor yang memiliki daya tarik akan lebih efektif dari pada tutor yang tidak menarik. Sikap menyenangkan yang ditampilkan oleh tutor akan ditanggapi positif oleh peserta, pada gilirannya berpengaruh terhadap intensitas perilaku belajarnya. Sebaliknya, fasilitator yang menampilkan sikap tidak menyenangkan akan dinilai negatif oleh peserta, sehingga mengakibatkan kegiatan belajar menjadi tidak menyenangkan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Ada beberapa hal yang dianggap penting dimiliki oleh para tutor dalam proses interaksi belajar yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya warga belajar, yaitu (1) bersikap manusiawi dan tidak bereaksi secara mekanis atau memahami masalah peserta didik hanya secara intelektual; ikut merasakan apa arti manusia dan benda bagi mereka; berada dan bersatu dengan peserta didik; membiarkan diri sendiri mengalami atau menyatu dalam pengalaman para peserta didik; merenungkan makna pengalaman itu sambil menekan penilaian diri sendiri, (2) Bersikap kewajaran: jujur, apa adanya, konsisten, terbuka; membuka diri; merespon secara tulus ikhlas, (3) Bersikap respek: mempunyai pandangan positif terhadap peserta; mengkomunikasikan kehangatan, perhatian, pengertian, menerima orang lain dengan penghargaan penuh; menghargai perasaan dan pengalaman mereka, dan (4) Membuka diri: menerima keterbukaan orang lain tanpa menilai dengan ukuran, konsep dan pengalaman diri sendiri; secara aktif mengungkapkan diri kepada orang lain dan mau mengambil resiko jika melakukan kekeliruan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: center;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Penerapan Andragodi dalam Pengorganisasian Bahan Belajar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pengorganisasian bahan belajar sedemikian rupa, memudahkan warga belajar dalam mempelajarinya. Pengorganisasian bahan belajar dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan pembelajaran. Setiap bahan belajar yang ingin disampaikan, harus dilihat dari ketertarikan warga belajar terhadap materi yang disampaikan, kesesuaian materi dengan kebutuhan warga belajar, dan kesamaan tingkat dan lingkup pengalaman antara tutor dan warga belajar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Bahan belajar yang berisi pengetahuan, keterampilan dan atau nilai-nilai akan disampaikan oleh tutor kepada warga belajar. Bahan belajar itu pula yang akan dipelajari oleh warga dalam mencapai tujuan belajar. Materi harus dipilih atas pertimbangan sejauh mana peranannya dalam menciptakan situasi untuk penyesuaian perilaku warga belajar di dalam mencapai tujuan belajar yang ditetapkan. Materi itu pun akan mempengaruhi pertimbangan tutor dalam memilih dan menetapkan teknik pembelajaran.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Seorang tutor hendaknya mengetahui faktor-faktor yang patut dipertimbangkan dalam memilih bahan belajar untuk diajarkan. Ketertarikan warga belajar dalam memilih dan mempelajari bahan belajar adalah merupakan manifestasi dari perilaku belajar warga belajar. Faktor-faktor yang patut dipertimbangkan dalam memilih bahan belajar adalah tingkat kemampuan peserta, keterkaitannya dengan pengalaman yang telah dimiliki oleh peserta, tingkat daya tarik bahan belajar, dan tingkat kebaharuan dan aktualisasi bahan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: center;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Penerapan andragogi dalam Metode Pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Penggunaan metode pembelajaran dalam pendidikan orang dewasa berimplikasi pada penggunaan teknik pembelajaran yang dipandang cocok digunakan di dalam menumbuhkan perilaku warga belajar. Knowles mengklasifikasi teknik pembelajaran dalam mencapai tujuan belajar berdasarkan tipe kegiatan belajar, yakni; sikap, pengetahuan dan keterampilan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Kegiatan belajar pada pendidikan orang dewasa masih merupakan kegiatan belajar yang paling efisien dan paling dapat diterima serta merupakan alat yang dinamis dan fleksibel dalam membantu orang dewasa belajar. Oleh karena, kegiatan belajar merupakan alat yang dinamis dan fleksibel dalam membantu orang dewasa, maka penggunaan metode belajar diperlukan berdasarkan prinsip-prinsip belajar orang dewasa. Metode belajar orang dewasa adalah cara mengorganisir peserta agar mereka melakukan kegiatan belajar, baik dalam bentuk kegiatan teori maupun praktek. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar, harus (1) berpusat pada masalah, (2) menuntut dan mendorong peserta untuk aktif, (3) mendorong peserta untuk mengemukakan pengalaman sehari-harinya, (4) menumbuhkan kerja sama, baik antara sesama peserta, dan antara peserta dengan tutor, dan (5) lebih bersifat pemberian pengalaman, bukan merupakan transformasi atau penyerapan materi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 5pt 0in; text-align: right;" class="MsoNormal" align="right"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="mailto:Dama@Jugaguru.com"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Sumber: Pemerhati Pendidikan Orang Dewasa dan Pamong Belajar BPKB Sulteng&lt;/span&gt;                (dama)      &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-4227579311627477461?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/4227579311627477461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=4227579311627477461' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/4227579311627477461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/4227579311627477461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/aplikasi-andragogi-dalam-pembelajaran.html' title='Aplikasi Andragogi dalam Pembelajaran pendidikan Non Formal'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-7090437218792182889</id><published>2008-05-14T23:51:00.000-07:00</published><updated>2008-05-15T01:09:09.680-07:00</updated><title type='text'>TARGET PERENCANAAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH</title><content type='html'>Oleh :Ika umaya yasinta(1102406008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pendidikan luar sekolah  adalah:&lt;br /&gt;                          1. Penemuan yang telah ada sebelumnya .&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;                                        Suatu perencanaan tidak akan berdiri sendiri terisolasi&lt;br /&gt;                            darikegiatanegiatan  dan kondisi-kondisi sosial ekonomi yang telah ada&lt;br /&gt;                            dimasyarakat.Begitu pulahasil-hasil penelitian sebelumnya yang sangat berguna&lt;br /&gt;                            dalam penenyusunan dan perencanaan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                          2. Jenis-jenis keterangan yang penting.&lt;br /&gt;                                           -Kegiatan ekonomi /jenis-jenis pekerjaan pokok.&lt;br /&gt;                                           -Faktor faktor sosial budaya .&lt;br /&gt;                                           -Fasilitas -fasilitas dan pelayanan sosial.&lt;br /&gt;                                           -Bidang politik.&lt;br /&gt;                                           -Faktor-faktor fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        3. Apakah selalu dibutuhkan suatu penelitian ?&lt;br /&gt;                                         Bagaimana cara untuk menjawab pertanyaan ini mengenai keadaan&lt;br /&gt;                            lokasi .hal ini di lakukan penting karena kondisi selalu berubah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        4. Bagaimana data dikumpulkan.&lt;br /&gt;                                          -Observasi ,foto,gambar.&lt;br /&gt;                                          -Melakukan survai siapa yang terlibat dan siapa yanng terangsang.&lt;br /&gt;                                          -Interviu dennngan cara ini diharapkan dapat memperoleh keterangan &lt;br /&gt;                                            lebih kusus.&lt;br /&gt;                                         -Dengan melalui diskusi dan pertemuan dimana peserta dapat&lt;br /&gt;                                            memberikan sumbangan pikiran yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                         5.Siapa yang harus mengumpulkan data.&lt;br /&gt;                                          Metode yang sering digunakan dalam mengumpulkan data baik dari&lt;br /&gt;                             anggota atau masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        6.Bagaimana data dapat dianalisis.&lt;br /&gt;                                        Bentuk penganalisisan sangat erat dengan tipe data dan cara&lt;br /&gt;                            pengumpulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        7. sasaran pendengar.&lt;br /&gt;                                       Sasaran pendengar adalah sejumlah orang yang telah diidentifikasi&lt;br /&gt;                            melalui penelitian pendahuluan atau yang telah memperkenalkan dirinya&lt;br /&gt;                            sendiri .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                      8.Bagaimana perencanaan berhubungan dengan kelompok sasaran.&lt;br /&gt;                                     Yaitu bagaimana menjalin hubungan secara terbuka mengenai tujuan dan&lt;br /&gt;                          proyek .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                     9.Pengiraan Kebutuhan.&lt;br /&gt;                                                 -Dasar /fungsional&lt;br /&gt;                                                 -Kejuruan&lt;br /&gt;                                                 -Kewarga negaraan/sosial&lt;br /&gt;                                                 -Kejiwaan.&lt;br /&gt;                                                 -Moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   10.Penyusunan skala prioritas.&lt;br /&gt;                                  Kebijakan nasional merupakan posisi yang penting dalam mengambil&lt;br /&gt;                         kebijakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   11.Bagaimana kalau terjadi perubahan kebutuhan .&lt;br /&gt;                                 Kebutuhan tidak selalu statis tetapi secara dinamis dan periodik.karena&lt;br /&gt;                         kepeksibelannya sangat diperlukan dalam pengiraan ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 12. Tujuan dan stategi.&lt;br /&gt;                                 Tujuan -tujuan umum ,tujuan khusus dan strategi adalah garis-garis&lt;br /&gt;                       petunjuk dan perencanaan yang digunakan untuk memberi arah dan dari kegitan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                13. Apakah tujuan umum itu?&lt;br /&gt;                                  Merupakan pernyataan umum dari fokus dan maksu dari suatu proyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               14. Apakah tujuan khusus?&lt;br /&gt;                                  Tujuan yang lebih spesifikdan memiliki pernyataan lebih kongkrit tentang&lt;br /&gt;                     tujuan proyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               15. Apakah strategi?&lt;br /&gt;                                    Pemilihan strategi mempertimbangkan faktor-faktor:&lt;br /&gt;                                                                -Sosial.&lt;br /&gt;                                                                -Ekonomi.&lt;br /&gt;                                                                -Pendidikan.&lt;br /&gt;                                                                -Politik.&lt;br /&gt;                                                               -Administrasi.&lt;br /&gt;                                                               -Tehnis.&lt;br /&gt;                                                               -Lingkungan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             16. Apakah yang dimaksud fleksibel?&lt;br /&gt;                               Suatu proyek yang memungkinkan perubahan stategi selama proyek itu&lt;br /&gt;                   berlangsung,tanpa merobah proyek itu secara keseluruhan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;              17. Rencana implementasinya.&lt;br /&gt;                               Rancangan penggunaan dari suatu proyek termasuk pengenalan kegiatan dan&lt;br /&gt;                    dampak yanng ditimbulkan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;              18. Jadwal waktu pelaksanaan .&lt;br /&gt;                             Suatu kegiatan harus diketahui berapa waktu yang diperlukan dan tugas apa&lt;br /&gt;                   yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;              19. Penilaian.&lt;br /&gt;                                    -Siapa yang akan menangani penilaian ?&lt;br /&gt;                                    -Siapa yang akan bertanggung jawab terhadap penilaian ?&lt;br /&gt;                                    -Kapan waktu pelaksanaan penilaia?&lt;br /&gt;                                   -Bagaimana data dikumpulkan  dan digunakan ?&lt;br /&gt;                                   -Sumber perencanaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-7090437218792182889?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/7090437218792182889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=7090437218792182889' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/7090437218792182889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/7090437218792182889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/target-perencanaan-pendidikan-luar.html' title='TARGET PERENCANAAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-7133107507597970729</id><published>2008-05-14T18:39:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T18:47:07.304-07:00</updated><title type='text'>pengertian pendidikan luar sekolah</title><content type='html'>oleh Maghfiroh&lt;br /&gt;NIM 1102406015&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan luar sekolah adalah pendidikan yang dilaksanakan diluar pendidikan formal untuk warga belajar agar mereka memperoleh suatu keterampilan dalam hidupnya.&lt;br /&gt;Di Universitas Negeri Semarang terdapat jurusan Pendidikan Luar Sekolah dibawah naungan Fakultas Ilmu Pendidikan. Selain pendidikan luar sekolah juga terdapat beberapa jurusan lain yaitu kurikulum dan teknologi pendidikan, psikologi, bimbingan luar sekolah, PGSD, PGTK.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-7133107507597970729?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/7133107507597970729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=7133107507597970729' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/7133107507597970729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/7133107507597970729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/pengertian-pendidikan-luar-sekolah.html' title='pengertian pendidikan luar sekolah'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-1379976102717804770</id><published>2008-05-14T18:17:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T18:23:36.070-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title"&gt; &lt;a href="http://luarsekolah.blogspot.com/2008/03/pendidikan-luar-sekolah-tentang.html"&gt;Pendidikan Luar Sekolah Tentang Pendidikan Seumur Hidup&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;Oleh: Nur Shobah ( 1102406014 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;div class="post-body entry-content"&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jenjang pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Pendidikan anak usia dini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Pendidikan dasar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Pendidikan menengah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Pendidikan tinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalur pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Pendidikan formal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tingg&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Pendidikan nonformal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan nonformal paling banyak terdapat pada usia dini, serta pendidikan dasar, adalah TPA, atau Taman Pendidikan Al Quran,yang banyak terdapat di setiap mesjid dan Sekolah Minggu, yang terdapat di semua gereja.&lt;br /&gt;Selain itu, ada juga berbagai kursus, diantaranya kursus musik, bimbingan belajar dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Pendidikan informal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jenis pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Pendidikan umum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya: Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Pendidikan kejuruan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Pendidikan akademik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Pendidikan profesi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki suatu profesi atau menjadi seorang profesiona&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; *Pendidikan vokasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Pendidikan keagamaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Pendidikan khusus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk Sekolah Luar Biasa/SLB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Filosofi pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang lain, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam -- sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka -- walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kualitas pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan -- khususnya di Indonesia -- yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan.&lt;br /&gt;Faktor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Berita PLS&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;span class="post-author"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="post-timestamp"&gt;&lt;a class="timestamp-link" href="http://luarsekolah.blogspot.com/2008/03/pendidikan-luar-sekolah-tentang.html" title="permanent link"&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-1379976102717804770?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/1379976102717804770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=1379976102717804770' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/1379976102717804770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/1379976102717804770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/pendidikan-luar-sekolah-tentang.html' title=''/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-827243851361141750</id><published>2008-05-13T21:59:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T22:38:30.168-07:00</updated><title type='text'>PENGEMBANGAN METODE PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH</title><content type='html'>Oleh :Ika umaya yasinta(1102406008)&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN DALAM MEMILIH ATAU MENGGUNAKAN METODE PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH&lt;br /&gt;1.Tujuan belajar atau tujuan instruksional khusus yangakan dicapai.&lt;br /&gt;2.Warga belajar yang menjadi sasaran didik.&lt;br /&gt;3.Sumber dan fasilitas yang tersedia .&lt;br /&gt;4.Waktu belajaryang tersedia/ yang digunakan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;            PENGEMBANGAN METODE BELAJAR PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH BERDASARKAN  PENDEKATAN PEMBELAJARAN DAN PROSES BELAJAR YANG DIRANCANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Berdasarkan Pendekatan Pembelajaran PLS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1. Pendekatan berpusat pada masalah .&lt;br /&gt;             - Pamong belajar memberikan rangsangan dan menghidupkan suasana belajar.&lt;br /&gt;             - Rangsangan hanya untuk menghidupkan suasana belajar dan mengandung informasi .&lt;br /&gt;             - Warga belajar berperan mengkaji masalah .&lt;br /&gt;             - Penekanan pada pemecahan masalah secara terpadu untuk menelaaah dan    &lt;br /&gt;               pemecahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Pendekatan Proyektif.&lt;br /&gt;            - Fasilitator berperan menyajjikan cerita terbuka.&lt;br /&gt;            - Merangsang informasi dan pennnnnnngaruh sosial ekonomi.&lt;br /&gt;            - Warga belajar meyelesaikan cerita menurut perasaan&lt;br /&gt;            - Memberi penekanan daya nalar pada warga belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3. Pendekatan perwujudan diri.&lt;br /&gt;            -pamong belajar menyajikan bahasan mentah .&lt;br /&gt;            -pemberian rangsangan gambar.&lt;br /&gt;            -Mendiskusikan dengan kelompok.&lt;br /&gt;            -menekankan pada kepercayaan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    4. Pendekatan belajar partisipatif.&lt;br /&gt;              - Tahap pembinaan keakraban .&lt;br /&gt;              - Tahap identifikasis masalah.&lt;br /&gt;              - Tahap penentuan tujuan kegiatan belajar.&lt;br /&gt;              - Tahap pennyusunan rencana kegiatan belajar .&lt;br /&gt;              - Tahap pelaksanaan program kegiatan belajar .&lt;br /&gt;              - Tahap evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Berdasarkan proses belajar yang dirancang.&lt;br /&gt;     1.Proses belajar yang dirancang untuk membantu warga belajar menata kembali pengalaman&lt;br /&gt;         masa lampau.&lt;br /&gt;     2.Proses belajar yang dirancang untuk memberikan pengalaman baru.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-827243851361141750?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/827243851361141750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=827243851361141750' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/827243851361141750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/827243851361141750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/pengembangan-metode-pendidikan-luar.html' title='PENGEMBANGAN METODE PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-8906525749034093337</id><published>2008-05-12T19:55:00.001-07:00</published><updated>2008-05-12T19:57:52.407-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Pendidikan Sekolah Menjadi Kebutuhan&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Oleh: Nur Shobah 1102406014&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Mama Putri, begitu ibu satu anak itu dipanggil oleh para tetanggnya, diusinya yang telah kepala tiga, ibu yang tinggal di Desa Sintuwu Lemba, Kecamatan lage, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah itu dalam hari-hari ini selalu memperlihatkan wajah ceria, tentram dan damai. Katanya, aku sudah menemukan ketenangan hidup karena sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku telah ku temukan, sebuah pendidikan yang selama dalam hidupnya tidak pernah di cicipinya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Kini, hari-hari belakangan dia tampak semangat setiap mengikuti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;praktik tata boga atau pembuatan kue yang di fasilitas LSM CARDI . (Consortium for Assistance and Recovery toward Development I Idonesia) melalui Komite Pemuda atau Yout Center Kecamatan Lage yang digelar di SMKN Poso, dalam satu pekan dia mengikuti empat kali pertemuan dengan empat jam belajar. Selama mengikuti pendidikan praktik tata boga dia mengaku menemukan yang baru untuk membangun ekonomi keluarga dari ilmu pembuatan kue yang didapatkannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Berbeda dangan Mama Putri, Nima yang pernah pengenyam pendidikan dari SD hingga SMA itu lebih merasakan manfaat pendidikan praktik yang jarang dia dapatkan selama sekolah. Pendidikan praktik selepas SMA ini justru dia dapatkan setelah mengikuti pendidikan yang di gelar CARDI selama hampir setahun itu. . Saat ini, dia sudah bisa memetik hasilnya, dari ilmu yang didapatkannya itu dia sudah membuka usaha menjahit dirumahnya “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih pada CARDI yang telah memberikan pendidikan parktik secara gratis sehingga saya bisa membangun usaha menjahit dengan penghasilan yang saat ini sangat cukup,” kata Nima.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mama Putri dan Nima hanya dua orang dari ribuan pemuda di Poso yang telah tersentuh pendidikan praktik yang digelar CARDI. Setidaknya, para pemuda-pemuda tersebut telah memiliki keahlihan dan ketrampilan tersendiri yang bisa mereka manfaatkan untuk menambah ekonomi keluarga maupun ekonomi bersama.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Ternyata memang, Pendidikan Luar Sekolah (PLS) tidak bisa dipandang sebelah mata dalam sistem pendidikan nasional saat ini. PLS sangat penting dalam penuntasan wajib belajar bagi anak-anak yang tidak sempat duduk di sekolah konfensional. Bahkan, tidak sedikit alumni&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;PLS yang dalam kenyataannya mampu bersaing di bursa kerja dan dunia usaha. Mereka juga mampu membuka usaha dan merekrut tenaga kerja dengan ketrampilan yang dimiliki saat mengenyam PLS.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Justru, Pengembangan PLS&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diperlukan untuk pengentasan kemiskinan dan pengurangan jumlah pengangguran.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Kepala Sub Dinas Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah Bertha Pakase di ruang kerjanya, Rabu (6/2) pekan lalu mengatakan, pendidikan yang menekankan ketrampilan hidup ini bisa menjadi solusi untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran di pedesaan maupun perkotaan. Berbagai terobosan sedang dikembangkan pemerintah untuk membuat pendidikan luar sekolah menjadi bermanfaat bagi masyarakat," kata Bertha.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Di Poso, anak-anak yang putus sekolah karena berbagai sebab saat ini tidak perlu terlalu khawatir untuk memperoleh pendidikan. Sebab, pemerintah telah menyediakan PLS yang berada di 15 kecamatan di Kabupaten Poso.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bertha juga menekankan kepada mereka yang mengikuti PLS tetap berbesar hati karena PLS pada dasarnya setara dengan pendidikan formal lainnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Senada dengan Bertha,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kasubdin Pendidikan Menengah SMP dan SMA Viktor Tumonggi menuturkan, saat ini pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional terus menggalakan program PLS yang ditangani langsung oleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Direktorat Pendidikan Luar Sekolah atau non formal. Meski banyak kritikan yang datang dari berbagai kalangan tentang pendidikan paket A, B dan C.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Pemerintah tetap jalan terus dan hasilnya bisa dilihat. Saat ini sudah ada banyak anak-anak putus sekolah yang tertolong dengan mengikuti PLS. mereka yang tidak lulus sekolah SMP atau SMA bisa mengikuti program paket C untuk SMA, paket B untuk SMP dan paket A untuk setingkat SD.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Anak-anak putus sekolah disebabkan berbagai hal. Yang paling klasik sering dijumpai karena faktor biaya sekolah. Jujur, biaya sekolah saat ini terus melambung meski pemerintah terus berusaha memberikan pendidikan gratis dan beasiswa kepada murid sekolah. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Himpitan ekonomi maupun meningkatnya harga-harga kebutuhan pokok membuat orang tua murid harus pintar-pintar memilah pengeluaran setiap bulan. dan kenaikan biaya pendidikan anak terkadang sulit masuk dalam toleransi orang tua murid. Yang mereka tahu, bila ada kenaikan SPP atau SSP, ini tentu berkaitan dengan keinginan sekolah memperluas usaha atau keinginan sebagian pelaksana pendidikan untuk hidup lebih layak dengan kenaikan gaji atau THR atau biaya rekreasai.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Kondisi itulah yang menyebabkan beberapa orang tua dari kalangan miskin enggan menyekolahkan anaknya.namun, dengan program PLS ini, para orang tua tidak perlu lagi takut dengan biaya sekolah. Anak-anak mereka bisa mendapat ijazah untuk melanjutkan sekolah atau ke perguruan tinggi dengan biaya yang disubsidi pemerintah.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Kedua Pejabat di Dinas Pendidikan Kabupaten Poso tersebut menilai pendidikan luar sekolah dikembangkan untuk memecahkan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Terutama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat di. pedesaan, perkotaan, dan kursus para profesi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Pendidikan model tersebut tak harus sepenuhnya ditangai pemerintah. Lembaga-lembaga swadaya masyarakat LSM punya peranan strategis dalam mengembangan pola pendidikan tersebut di atas. Salah satunya yang telah dilakukan oleh LSM CARDI&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di Poso.&lt;/p&gt;    &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Mereka melihat ada geliat dan semangat pemuda di Poso yang tergabung dalam kegiatan CARDI. Seperti kursus bidang jasa yang digelar CARDI di beberapa tempat di desa dan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang diikuti banyak oleh kaum muda Poso. Ini kabar baik bagi perkembangan Poso karena program tersebut sangat jelas akan menambah wawasan dan ketrampilan baru yang tidak mereka dapatkan di bangku sekolah. Dengan ketrampilan yang mereka miliki akan mampu menghadapi persaingan kerja&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-8906525749034093337?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/8906525749034093337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=8906525749034093337' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/8906525749034093337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/8906525749034093337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/pendidikan-sekolah-menjadi-kebutuhan.html' title=''/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-2160641764335279632</id><published>2008-05-12T19:46:00.001-07:00</published><updated>2008-05-12T19:53:40.277-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a name="7668849814531131374"&gt;&lt;/a&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://frenky-cahya-purnama.blogspot.com/2007/09/teknologi-informasi-dan-pendidikan-luar.html"&gt;TEKNOLOGI INFORMASI DAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH “Antara Konsep dan Implementasi”&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;sabtu, 22 September 2007&lt;br /&gt; &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;p&gt;Oleh: Saadatul Athiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaingan yang ketat di segala aspek kehidupan saat ini telah membuka mata kita bahwa betapa pentingnya informasi. Informasi bukan lagi sebagai komoditas yang dapat dikesampingkan namun telah menjelma menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menguasai informasi seseorang dapat dengan mudah mendapatkan sesuatu yang diharapkannya bahkan dapat mewujudkan hal yang dianggap tidak mungkin menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan informasi dibarengi pula dengan semakin majunya teknologi informasi sehingga makin memudahkan mengakses informasi tanpa dibatasi jarak dan waktu. Walaupun demikian, kita masih bisa melihat masih banyak terjadi kesenjangan di masyarakat menyangkut pemerataan informasi. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor, diantaranya;&lt;br /&gt;1.Belum meratanya infrastruktur penunjang teknologi informasi.&lt;br /&gt;Selama ini infrastruktur penunjang teknologi informasi lebih banyak berkumpul di wilayah perkotaan. Di wilayah Sulawesi Selatan misalnya, infrastruktur teknologi informasi yang lengkap dan memadai hanya berada di wilayah kota Makassar dan Parepare saja sehingga masyarakat di wilayah lain belum dapat menikmati informasi dengan biaya terjangkau dan bersifat Real Time semisal mengakses internet.&lt;br /&gt;2.Kemampuan SDM yang mampu menggunakan perangkat teknologi informasi masih rendah.&lt;br /&gt;Masalah ini masih saja menjadi kendala kita dalam melakoni berbagai bidang tidak terkecuali kemampuan menggunakan perangkat teknologi informasi. Sejauh ini kita lihat yang menggunakan perangkat teknologi informasi hanya sebatas mahasiswa, pegawai/karyawan perusahaan, siswa-siswi sekolah menengah ataupun kalangan professional. Padahal informasi bukan hanya milik mereka tapi semua elemen masyarakat tanpa memandang siapa atau apa profesinya.&lt;br /&gt;3.Belum adanya sosialisasi yang cukup mengenai teknologi informasi kepada masyarakat.&lt;br /&gt;Terobosan yang dilakukan pemerintah utamanya didunia pendidikan untuk lebih mengenal lebih jauh tentang teknologi informasi sudah baik, dimana para siswa diberikan pengetahuan bagaimana menggunakan dan mengelola perangkat teknologi informasi. Namun apakah pengetahuan tersebut hanya bagi kalangan pendidikan formal? lalu bagaimana masyarakat yang bergelut di pendidikan non formal atau yang lainnya.&lt;br /&gt;Semua hal tersebut menjadi bahan evaluasi bagi kita dalam melihat bagaimana pengembangan sistem informasi kedepan yang dapat menyentuh masyarakat sampai ke level bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan Teknologi informasi  bagi Pendidikan luar sekolah&lt;br /&gt;Penerapan teknologi informasi yang tepat juga menjadi dilema di dunia pendidikan luar sekolah, berbagai konsep mengenai hal tersebut telah beberapa kali dirumuskan namun pada kenyataannya belum mampu untuk diimplementasikan pada masyarakat. Seperti kita ketahui bersama bahwa pendidikan luar sekolah saat ini lebih banyak bergelut pada cluster terkecil atau lapisan bawah di masyarakat. Dimana yang menjadi target pendidikan luar sekolah adalah anak-anak putus sekolah, masyarakat buta aksara serta orang-orang yang belum mempunyai penghasilan memadai disebabkan tidak mempunyai keterampilan yang cukup sedangkan untuk menggunakan teknologi informasi diperlukan sedikit pengetahuan serta biaya yang mungkin bagi mereka tidaklah begitu penting. Selain itu bagi mereka yang bergelut didunia pendidikan luar sekolah seperti tutor, tld, fdi, ataupun stakeholder yang ada didaerah masih belum mempergunakannya karena masih terbentur masalah fasilitas dan kurangnya pengetahuan tentang hal tersebut. Namun apapun persoalannya bukanlah menjadi halangan bagi kita untuk menciptakan dunia pendidikan luar sekolah berbasis TI.&lt;br /&gt;Terkait dengan masalah infrastruktur penunjang teknologi informasi, terdapat beberapa pilihan yang dapat dilakukan, tapi salah satu solusi yang tepat melihat situasi serta kondisi masyarakat yang menjadi sasarannya adalah dengan menggunakan konsep yang ditelurkan oleh tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yaitu dengan menggunakan teknologi Radio Paket. Dengan menggunakan teknologi ini kita sudah dapat membangun suatu jaringan komputer dengan biaya murah serta mudah. Selain itu teknologi ini dapat digunakan di daerah-daerah yang belum dijangkau oleh koneksi dial-upnya telkom. Tentu saja pembangunan ini perlu mendapat dukungan dari semua pihak termasuk pemerintah daerah.&lt;br /&gt;Perangkat-perangkat informasi seperti Situs, e-learning serta sistem informasi pendidikan luar sekolah juga menjadi poin yang penting untuk dikembangkan sebab dari sanalah semua bahan dan informasi mengenai pendidikan luar sekolah didapatkan.&lt;br /&gt;Walaupun kita telah dapat merealisasikan infrastruktur serta perangkatnya, hal tersebut menjadi tidak berguna apabila tidak ditunjang oleh SDM yang baik. Untuk mewujudkan SDM yang baik terutama dalam menggunakan perangkat teknologi informasi diperlukan pelatihan serta sosialisasi mengenai hal tersebut. Mungkin bagi stakeholder atau pelaksana teknis di bidang pendidikan luar sekolah, pelatihan berbasis teknologi informasi bukanlah barang baru. Sebab BPPLSP Regional V Makassar misalnya telah beberapa kali melaksanakan pelatihan seperti itu, tapi bagaimana bagi tutor atau peserta paket A, B, C misalnya. Pasti belum banyak yang mengenal hal tersebut. Oleh karena itu perlu dipikirkan suatu konsep yang dapat mengintegrasikan pengetahuan mengenai teknologi informasi pada seluruh lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;BPPLSP Regional V Makassar sendiri sebagai perpanjangan pemerintah pusat di daerah yang bertanggung jawab dibidang pendidikan luar sekolah telah berusaha mengembangkan perangkat-perangkat penunjang untuk penyebaran informasi pendidikan luar sekolah diantaranya pengembangan website, Pengembangan sistem informasi pendidikan luar sekolah, e-learning pendidikan luar sekolah. Sedangkan untuk ke depan BPPLSP Regional V telah merencanakan membuat suatu komunitas berbasis teknologi informasi di lingkup propinsi hingga pedesaan dalam program Cyber Village.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;span class="post-author vcard"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-2160641764335279632?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/2160641764335279632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=2160641764335279632' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/2160641764335279632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/2160641764335279632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/teknologi-informasi-dan-pendidikan-luar.html' title=''/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-2487940466846555855</id><published>2008-05-12T19:32:00.000-07:00</published><updated>2008-05-12T19:41:27.259-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;KURSUS: Pendidikan Luar Sekolah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Nur Shobah 1102406014&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica;"&gt;Undang-Undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang tidak harus berjenjang dan bersinambungan. Satuan pendidikan luar sekolah meliputi kursus/lembaga pendidikan ketrampilan dan satuan pendidikan yang sejenis.&lt;/span&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica;"&gt;Di tengah krisis ekonomi seperti sekarang, kursus/lembaga pendidikan ketrampilan ini barangkali harus lebih dikedepankan. Kegiatan kursus bukan hanya memberi harapan pada anak putus sekolah yang sulit mencari kerja tetapi juga memberikan jalan bagi banyaknya jumlah lulusan SLTA yang tak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sehingga lembaga kursus selalu mendapat tempat.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:Arial,Helvetica;"&gt;Di tangan para pengelolanya, lembaga pendidikan ini bisa bergerak cepat mengikuti irama perkembangan dan tuntutan yang terjadi di masyarakat.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica;"&gt;Begitu cepatnya antisipasi yang dilakukan para penyelenggara kursus atas tuntutan masyarakat, sangat boleh jadi, lembaga pendidikan nonformal ini tidak begitu berat terkena pukulan akibat krisis ekonomi. Menurut mereka, lulusan SMTA yang akan memasuki perguruan tinggi perlu berpikir ulang, baik mengenai biaya maupun lama waktu belajar yang harus ditempuh. Apalagi, setelah selesai kuliah, para lulusan perguruan tinggi pun belum tentu mudah mendapatkan pekerjaan.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica;"&gt;Meski kursus masih dipandang sebelah mata, anak tiri dalam sistem pendidikan di Indonesia itu kini telah tumbuh menjadi sebuah bidang usaha yang nyaris tanpa batas. &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:Arial,Helvetica;"&gt;Tidak sedikit perguruan tinggi swasta bercikal bakal dari kursus. Lembaga-lembaga kursus di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir tumbuh sangat pesat dan berkembang menjadi industri mimpi yang menggiurkan. Banyak warga masyarakat yang rela membayarkan uangnya beratus ribu atau jutaan rupiah sekadar untuk mewujudkan impian. Bahwa kemudian mimpi indah itu tidak terwujud, adalah kenyataan lain yang tidak pernah disesali.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica;"&gt;Terlepas dari keberhasilan sejumlah lembaga kursus berkembang menjadi industri jasa yang cukup menjanjikan, masih lebih banyak lembaga kursus yang berjalan terseok-seok. Begitu banyak kursus yang hidupnya hanya seumur jagung. Menurut pengurus Hipki (Himpunan Penyelenggara Kursus Indonesia) anggota mereka mencapai 25.000 lembaga kursus yang terbagi dalam 10 rumpun dengan 160 jenis keterampilan. Berapa jumlah sebenarnya kursus yang ada di Indonesia mungkin tidak akan pernah terjawab karena demikian banyak kursus yang berdiri dan ditutup dalam waktu relatif singkat.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica;"&gt;Berdasarkan fungsinya, jenis-jenis lembaga kursus itu dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu: pertama, sejenis Bimbingan Tes yang bertujuan meningkatkan kemampuan belajar melalui pelajaran tambahan untuk bidang-bidang tertentu seperti IPA, matematika, bahasa Inggris, dan lain-lain dengan sasaran untuk semua pelajar SD-SMTA. Tapi ada yang khusus untuk pelajar pada tingkat tertentu saja, misalnya kelas III SMTA yang akan mengikuti tes UMPTN.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica;"&gt;Jenis kedua adalah Kursus-kursus Keterampilan yang bertujuan memberikan atau meningkatkan keterampilan mengetik, kecantikan, bahasa asing, akuntansi, montir, menjahit, sablon, babysitter, dan lain-lain. Sasaran lembaga ini mayoritas adalah para&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:Arial,Helvetica;"&gt;lulusan SMP dan SMTA yang memerlukan sertifikat keterampilan untuk mencari kerja.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica;"&gt;Jenis ketiga adalah Pengembangan Profesi, seperti kursus sekretaris atau humas perusahaan, akuntan publik, kepribadian, dan lain-lainnya. Sasarannya tamatan SMTA sampai perguruan tinggi, dari yang belum bekerja sampai yang sudah bekerja, namun ingin meningkatkan profesionalismenya. Jenis ketiga ini lebih ke arah pembentukan image dalam masyarakat, bukan hanya sekadar memberikan keterampilan teknis saja. Karena itu dari segi waktu pelaksanaan kursus lebih panjang (antara enam bulan sampai dua tahun).&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica;"&gt;Selain banyak dan beragamnya jenis lembaga kursus, pembinaan terhadap lembaga ini sering menjadi masalah. Dukungan pemerintah terhadap penyelenggaraan pendidikan luar sekolah selama ini sangat minim. Padahal lembaga kursus membutuhkan dukungan yang lebih besar agar bisa berkembang, terutama menghadapi era global di mana akan terbuka peluang bagi lembaga-lembaga kursus asing masuk ke Indonesia. Hal ini ditambah dengan kenyataan bahwa selama ini ada kesan lembaga kursus diperebutkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Departemen Tenaga Kerja. Akibatnya, dalam pembinaan maupun perizinan terjadi tumpang-tindih antara keduanya.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica;"&gt;Untuk mengatasi hal ini, pemerintah kemudian mengeluarkan ketentuan baru. Kebijakan baru di bidang pendidikan dan pelatihan ini memberikan penegasan tentang perbedaan antara kursus yang berada di bawah wewenang Departemen P dan K dan latihan kerja yang berada di bawah Departemen Tenaga Kerja. Kursus adalah pendidikan luar sekolah yang program-programnya diadakan untuk mereka yang belum ada kejelasan tempat kerja yang akan menampung. Sedangkan pelatihan kerja adalah pendidikan pelatihan untuk mengisi lowongan kerja tertentu.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica;"&gt;Menyusul dikeluarkannya ketentuan baru dalam pendidikan dan pelatihan ini, akan segera dilakukan standardisasi dan akreditasi untuk jenis-jenis kursus tertentu. Badan akreditasi kursus ini akan terdiri dari unsur-unsur Departemen P dan K, asosiasi profesi, dan industri. Namun demikian, sulit diharapkan akreditasi dapat menjangkau seluruh lembaga kursus yang jenisnya berbagai macam, mulai dari kursus sekretaris hingga kursus membuat kue. Dari sekitar 25.000 lembaga kursus, lebih separuhnya masih tergolong lembaga kursus kecil.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica;"&gt;Sudah sepantasnya kursus tidak dianaktirikan lagi dalam sistem pendidikan nasional. Dengan keanekaragamannya, lembaga ini mempunyai sifat dan tujuan yang sama, yakni sebagai penunjang atau pelengkap dari sistem persekolahan yang ada. Sebagai pemacu karier bagi yang sudah bekerja, dan sebagai bekal keterampilan bagi yang belum bekerja. Intervensi pemerintah dalam batas-batas tertentu memang diperlukan, khususnya untuk memacu mutu tenaga pengajar di lembaga-lembaga tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-2487940466846555855?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/2487940466846555855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=2487940466846555855' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/2487940466846555855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/2487940466846555855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/kursus-pendidikan-luar-sekolah-oleh-nur.html' title=''/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-329457704755956520</id><published>2008-05-12T19:08:00.000-07:00</published><updated>2008-05-12T19:12:49.413-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Luar Sekolah Masih Termarjinalkan</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;oleh: Rousemiati Julista (110240621)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Gresik, Kompas - Masyarakat luas belum sepenuhnya menyadari bahwa pendidikan luar sekolah memiliki fungsi dan peran yang sama dengan pendidikan sekolah. Meski masih termarjinalkan, peran pendidikan luar sekolah dan pemuda juga mampu menyiapkan sumber daya manusia yang cerdas, terampil, dan mandiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, Departemen Pendidikan Nasional, Dr Faisal Jalal di Gresik, Rabu (18/6). Dalam kesempatan tersebut, Faisal juga menyosialisasikan pendidikan luar sekolah (PLS) kepada puluhan pemimpin pondok pesantren di Kabupaten Gresik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Menurut Faisal, salah satu kendala pengembangan PLS di berbagai daerah adalah adanya paradigma masyarakat yang masih berorientasi pada pendidikan sekolah semata. Padahal, antara pendidikan sekolah dan PLS saling berkesinambungan dalam membentuk sumber daya manusia yang cerdas dan terampil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Melalui tempat kursus, pesantren, atau lembaga pendidikan luar sekolah lainnya, berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan dapat diserap.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Banyak masyarakat yang memaksakan anaknya untuk menempuh pendidikan hanya melalui sekolah formal dengan tujuan mendapatkan ijazah kelulusan dan dapat diterima bekerja di suatu perusahaan. Namun, realitasnya banyak anak yang gagal dalam pendidikannya di sekolah atau berhasil lulus sekolah, tapi tidak diterima bekerja pada suatu perusahaan," ujar Faisal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, jika dilihat dari kondisi kelayakan minimal sekolah dasar (SD), masih sangat memprihatinkan. Hal ini juga dapat dilihat dari prestasi hasil belajar siswa atau hasil ujian secara nasional yang masih rendah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Di Indonesia, kondisi kelayakan minimal sekolah dasar yang layak hanya sekitar 41,59 persen. Di samping itu, akses siswa terhadap buku teks untuk bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam masih rendah. Parahnya lagi, kompetensi dan kelayakan gurunya pun sangat rendah," kata Faisal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Karena itu, lanjut Faisal, masyarakat jangan hanya terpaku pada pendidikan sekolah. Realitas lain, secara nasional 60 persen tenaga kerja Indonesia merupakan pekerja yang pendidikan SD-nya tidak tamat. Sebagian besar dari mereka hanya menempati posisi karyawan atau buruh biasa, sedangkan untuk level atas, sebagian besar dikuasai orang asing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Minimnya kemampuan sumber daya manusia kita, karena kualitas pengetahuan dan kemampuannya juga rendah. Semua teori memang didapat di bangku sekolah, tapi praktiknya justru akan didapatkan di luar sekolah melalui pendidikan luar sekolah," tambah Faisal. (OTW).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;sumber: Kompas, 19 Juni 2003&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-329457704755956520?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/329457704755956520/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=329457704755956520' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/329457704755956520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/329457704755956520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/pendidikan-luar-sekolah-masih.html' title='Pendidikan Luar Sekolah Masih Termarjinalkan'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-3558624661903676439</id><published>2008-05-12T19:01:00.000-07:00</published><updated>2008-05-12T19:05:58.559-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:100%;color:red;"&gt;Model Pendidikan Luar Sekolah hasil Pemikiran Asah Pena&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;  &lt;b&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#5c5ccf;"&gt;Homschooling untuk Gakin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; oleh: Rousemiati Julista&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; Dalam beberapa tahun terakhir, homeschooling (HS) merebak di beberapa kota di Jawa Timur. Tak hanya untuk kalangan berada, sekolah rumah itu juga bakal bisa diterapkan terhadap keluarga tak mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada data pasti berapa jumlah anak yang belajar atau bersekolah di rumah alias ber-homeschooling di Indonesia. Namun, saat ini kian banyak orang tua yang berminat memberikan pembelajaran di rumah. Apalagi HS sebagai salah satu pendidikan alternative sudah terakomodasi dalam sistem pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak saja bunyi Undang-Undang Sisdiknas pasal 27 ayat 1 Di sana disebutkan, "Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri". Ayat 2 menyebutkan, "Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud ayat 1 diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan". Melalui payung hukum itu, mereka yang belajar di rumah sudah tak perlu was-was tentang legalitas sistem pembelajaran mereka. Semuanya sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, citra homeschooling di masyarakat masih beragam. Sebagian menganggap homeschooling mahal. Pasalnya, berbagai macam fasilitas harus dipenuhi sendiri. Misalnya alat-alat laboratorium yang jamaknya disediakan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi hal itu, Daniel M. Rosyid, ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur menegaskan bahwa siapa pun dapat ber-homeschooling. Menurutnya, model pendidikan rumah itu justru hadir bagi mereka yang tak mampu dalam hal finansial. Misalnya, keluarga miskin (gakin). "Sebab, anak-anak miskin tidak perlu mengeluarkan ongkos seragam sekolah, SPP, maupun uang gedung. Dengan demikian, jatuhnya biaya lebih murah dibandingkan pendidikan formal," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya, tidak semua keluarga dari kalangan kurang mampu mengetahui cara untuk mendidikan anaknya dengan model homeschooling. Padahal, saat ini sudah ada lembaga yang menfasilitasi hal tersebut. Di Jawa Timur, salah satu lembaga itu bernama Asosiasi Sekolah Rumah Pendidikan Alternatif (Asah Pena). Beberapa waktu lalu, lembaga yang diketuai Daniel itu telah meneken MoU (memorandum of understanding) dengan Dirjen Pendidikan Luar Sekolah-Depdiknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Daniel, Dirjen PLS menyisihkan 10 persen anggaran mereka untuk digunakan membantu program Asah Pena. Sasarannya adalah program yang membidik pendidikan anak, terutama mereka yang datang dari ekonomi lemah. Misalnya, anak-anak yang mengalami drop out (DO) di suatu daerah akan diberikan bantuan lewat model pembelajaran sekolah rumah. "Kegiatan belajar itu bisa dilaksanakan dengan berkelompok," terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daniel, yang juga ketua Asah Pena, menekankan bahwa homescooling tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga berduit. "Justru prioritas kami nantinya membantu untuk menuntaskan program wajib belajar pendidikan dasar," lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asah Pena juga akan membantu memfasilitasi mereka yang memilih homescooling untuk didaftarkan sebagai komunitas belajar pendidikan non formal. Dengan demikian, pesertanya bisa mengikuti ujian nasional kesetaraan paket A (setara SD), paket B (setara SMP), dan paket C (setara SMA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Asah Pena juga berkumpul para guru dan mahasiswa yang siap membantu. Pasalnya, saat ini banyak yang masih salah menafsirkan homeschooling. Meskipun belajar di rumah, namun esensi pendidikan tetap sama. "Mereka harus mengacu pada kurikulum standar nasional. Ini mungkin yang masih harus ditekankan pada masyarakat,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asah Pena sendiri telah berdiri sejak 4 Mei 2006 di kantor Depdiknas Jakarta. Asosiasi ini membidani dan mengakomodasikan berbagai kegiatan pendidikan di tanah air oleh beberapa tokoh dan praktisi pendidikan. (titik andriyani/anita rachman)&lt;br /&gt;sumber: Pontianak Post&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-3558624661903676439?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/3558624661903676439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=3558624661903676439' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/3558624661903676439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/3558624661903676439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/model-pendidikan-luar-sekolah-hasil.html' title=''/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-1981414833756083864</id><published>2008-05-08T20:49:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T20:52:47.615-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Luar Sekolah Belum Banyak Diakui</title><content type='html'>&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Oleh: Rousemiati Julista (1102406021)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jakarta, Kompas - Pengakuan masyarakat terhadap pendidikan luar sekolah (PLS), masih belum sama. Bahkan, di kalangan pendidikan sendiri masih banyak yang tidak menganggap pendidikan luar sekolah sebagai kegiatan pendidikan yang turut mencerdaskan anak bangsa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Pengakuan terhadap PLS masih parsial. Meskipun di beberapa daerah banyak yang sudah mengakui lulusan PLS, namun tidak sedikit yang masih tak acuh," ujar Direktur Pendidikan Masyarakat Ekodjatmiko Sukarso di Jakarta, Selasa (17/6). Kepada Ekodjatmiko dimintakan tanggapan tentang ditolaknya lulusan program paket C (setara SLTA) dari Serang oleh panitia Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) di Jakarta untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurut Ekodjatmiko, penolakan ini di satu sisi sebagai bukti bahwa jajaran pendidikan sendiri belum memberikan pengakuan, tetapi di sisi lain menjadi pemicu semangat untuk membuktikan diri bahwa lulusan PLS juga bermutu. Dari segi mutu soal ujian, peserta paket A (setara SD), B (setara SLTP), dan C sudah mempergunakan soal dari Pusat Pengujian Depdiknas seperti dilakukan bidang persekolahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Selain persoalan klasik, yang sering dipertanyakan orang adalah tentang proses pendidikan yang dilakukan di PLS. Adapun mutu soal ujian sudah sama dengan persekolahan," ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurut Ekodjatmiko, di PLS sudah lama menerapkan konsep belum lulus bagi warga belajarnya. Sebuah prinsip yang mirip dengan ketentuan lulus yang diterapkan di persekolahan saat ini. "Bagi kami di jajaran PLS, warga belajar yang belum lulus harus mengikuti proses belajar lagi agar ikut tes berikutnya hingga bisa dinyatakan lulus. Jadi tidak ada permainan nilai," ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ekodjatmiko menilai, jajaran pendidikan mendatang harus lebih siap lagi mengakui model pembelajaran yang berbeda dengan model persekolahan. Apalagi UU Sisdiknas yang disahkan 11 Juni lalu tidak hanya mengakui pendidikan nonformal seperti yang dilakukan PLS, tetapi juga pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar mandiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Pengakuan ini ada pada Pasal 27 Ayat (1). Jadi masyarakat yang tidak puas dengan model persekolahan yang ada bisa melakukan pendidikan mandiri. Jika peserta didik itu lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan, mereka akan mendapat pengakuan yang sama dengan pendidikan formal dan nonformal,"&lt;br /&gt;Sumber: www.kompas.com, Kamis 19 Juni 2003&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-1981414833756083864?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/1981414833756083864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=1981414833756083864' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/1981414833756083864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/1981414833756083864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/pendidikan-luar-sekolah-belum-banyak.html' title='Pendidikan Luar Sekolah Belum Banyak Diakui'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-5075043535925196657</id><published>2008-05-08T20:24:00.001-07:00</published><updated>2008-05-08T20:27:54.847-07:00</updated><title type='text'>Karakteristik Pendidikan Luar Sekolah</title><content type='html'>&lt;h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;oleh: Rousemiati Julista (1102406021)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Pendidikan Luar Sekolah sebagai Subtitute dari pendidikan sekolah. Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dapat menggantikan pendidikan jalur sekolah yang karena beberapa hal masyarakat tidak dapat mengikuti pendidikan di jalur persekolahan (formal). Contohnya: Kejar Paket A, B dan C&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pendidikan Luar Sekolah sebagai Supplement pendidikan sekolah. Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dilaksanakan untuk menambah pengetahuan, keterampilan yang kurang didapatkan dari pendidikan sekolah. Contohnya: private, les, training&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pendidikan Luar Sekolah sebagai Complement dari pendidikan sekolah. Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dilaksanakan untuk melengkapi pengetahuan dan keterampilan yang kurang atau tidak dapat diperoleh didalam pendidikan sekolah. Contohnya: Kursus, try out, pelatihan dll&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;table style="border: 1px dotted steelblue; margin: 5px 0px; padding: 0px; background: rgb(240, 240, 255) none repeat scroll 0% 50%; clear: both; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; font-size: 92%;" cellspacing="0" width="100%"&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 2px; background: rgb(255, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" width="1%"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Ikondrama.svg" class="image" title="Budaya"&gt;&lt;img alt="Budaya" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/7/72/Ikondrama.svg/30px-Ikondrama.svg.png" border="0" height="30" width="30" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=4239319262300009030#" onclick="togglePostOptions(); return false"&gt;Pilihan Posting&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-5075043535925196657?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/5075043535925196657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=5075043535925196657' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/5075043535925196657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/5075043535925196657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/karakteristik-pendidikan-luar-sekolah.html' title='Karakteristik Pendidikan Luar Sekolah'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-8344321531735508792</id><published>2008-05-05T00:10:00.000-07:00</published><updated>2008-05-05T00:50:00.462-07:00</updated><title type='text'>METODE BELAJAR PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH</title><content type='html'>Oleh:Ika umaya yasinta(1102406008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Berbeda dengan metode yang banyak digunakan dalam pendidikan sekolah ,maka dalam pendidikan luar sekolah lebih banyak menggunakan metode metode pendidikan yang lebih banyak memberikan kebebesan kepada warga belajar untuk bisa mengebangkan minat dan bakatnya.&lt;br /&gt;         Martha M. Leopoldt memperkenalkan adanya 45 metode pendidikan luar sekolah:&lt;br /&gt; 1.Merangkum buku.&lt;br /&gt; 2. Curah Pendapat (Brainstrorming).&lt;br /&gt;        &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Salah satu bentuk berpikir kreatif sehingga pertimbangan memberikan untuk&lt;br /&gt;           berinisiatif&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kreatif.Peserta diharapkan mencurahkan ide yang timbul dari pikirannya".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; 3. Kelompok Buzz.&lt;br /&gt; 4. studi kasus.&lt;br /&gt; 5. Mimbar reaksi berantai .&lt;br /&gt; 6. Sambutan melingkar.&lt;br /&gt; 7. Mengajukan pertanyaan .&lt;br /&gt; 8. Rembuk sejoli.&lt;br /&gt; 9. Forum debat.&lt;br /&gt;10. Demontrasi kelompok kerja.&lt;br /&gt;11. Pembahasan Mendalam kitab suci.&lt;br /&gt;12. Panel yang mengembang.&lt;br /&gt;13. Field trip.&lt;br /&gt;14. Diskusi dengan menggunakan film.&lt;br /&gt;15. Obrolan serambi seni.&lt;br /&gt;16. Karangan kelompok.&lt;br /&gt;17. Diskusi kelompok.&lt;br /&gt;18. Lukisan kelompo.k&lt;br /&gt;19. Team sambutan kelompok.&lt;br /&gt;20. Penelaah induktif kitab suci.&lt;br /&gt;21. Forum wawancara.&lt;br /&gt;22. Ceramah.&lt;br /&gt;23. Forum ceramah.&lt;br /&gt;24. Team pendengar.&lt;br /&gt;25. Forum musik.&lt;br /&gt;26. Panel.&lt;br /&gt;27. Forum panel&lt;br /&gt;28. Langen suara.&lt;br /&gt;29. Forum tanya jawab.&lt;br /&gt;30. Tanya jawab.&lt;br /&gt;31. Panel beraksi.&lt;br /&gt;32. Penelitian dan laporan.&lt;br /&gt;33. Bermain peranan.&lt;br /&gt;34. Ceramah saringan .&lt;br /&gt;35. Seminar.&lt;br /&gt;36. Forum khotbah.&lt;br /&gt;37. Simposium.&lt;br /&gt;38. Dialog dalam simposium.&lt;br /&gt;39. Forum simposium .&lt;br /&gt;40. Kelompok -kelompok kerja.&lt;br /&gt;41. Lokakarya.&lt;br /&gt;42. Potret diri.&lt;br /&gt;43. Diskusi mengembang .&lt;br /&gt;44. Keputusan juri.&lt;br /&gt;45. Permainan simulasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-8344321531735508792?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/8344321531735508792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=8344321531735508792' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/8344321531735508792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/8344321531735508792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/metode-belajar-pendidikan-luar-sekolah.html' title='METODE BELAJAR PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-6159867509246512180</id><published>2008-05-02T19:44:00.000-07:00</published><updated>2008-05-02T23:24:41.070-07:00</updated><title type='text'>KONSEP DASAR  PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Oleh :Ika umaya yasinta (1102406008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;          Indonesia memiliki masalah- masalah kependidikan yang memperhatinkan  masalah ini terjadi sebelum indonesia merdeka hingga sampai sekarang.Secara terperinci dapat diungkapkan alasan-alasan timbulnya pendidikan luar sekolah adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;              @ Alasan dari Segi Faktual _historis&lt;br /&gt;                           -Kesejarahan&lt;br /&gt;                   -Kebutuhan Pendidikan&lt;br /&gt;                   -Potensi sumber belajar&lt;br /&gt;                   -Keterlantaran Pendidikan luar sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;              @Alasa dari segi Analitis -parsfektif&lt;br /&gt;                    -pelestarian  identitas bangsa&lt;br /&gt;                    -Kecende rungan belajar individual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;              @Alasan dari segi Formal -kebijakan&lt;br /&gt;                     -Pembukaan UUD 1945&lt;br /&gt;                     -GBHN&lt;br /&gt;                     - Pelita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B .Definisi Pendidikan luar sekolah&lt;br /&gt;           #Pendidikan luar sekolah merupakan sistem baru dalam dunia pendidikan yang bentuk&lt;br /&gt;               dan pelaksanaannya barbeda dengan sistem sekolah yang ada .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            #Pendiikan luar sekolah adalah dimana setiap kesempatan dimana terdapat&lt;br /&gt;               komunikasi  yang teratur dan terarah diluar sekolah danseseorang memperoleh&lt;br /&gt;               informasi,pengetahuan,latihanatau bimbingan sesuai dengan kebutuhan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C Kegiatan  Dalam Pendidikan luar sekolah.&lt;br /&gt;    *Adanya pengorganisasian.&lt;br /&gt;     *Adanya program pendidikan.&lt;br /&gt;     *Adanya urutan materi .&lt;br /&gt;    *Jangka waktu belajar pendek.&lt;br /&gt;    *Tujuan pendidikan spesifik .&lt;br /&gt;    *Ada subyek /sasaran belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.Sasaran Pendidikan luar sekolah.&lt;br /&gt;    -Pendidikan luar sekolah untuk pemuda.&lt;br /&gt;    -Pendidikan luar sekolah untuk orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.Ciri - ciri Pendidika luar sekolah.&lt;br /&gt;     1.Berkaitan degan misi yang mendesak dan praktis.&lt;br /&gt;     2.Tempatnya diluar kelas.&lt;br /&gt;     3.Bukti memilika ilmu pengetahuan adala h keterampilan .&lt;br /&gt;     4.Tidak terikat ketentuan yang ketat.&lt;br /&gt;     5.Pesertanya bersifat sukarela.&lt;br /&gt;     6.Merupakan aktivitas sampingan.&lt;br /&gt;     7.Biaya pendidikan lebih murah .&lt;br /&gt;     8.Persyaratan penerimaan peserta lebih mudah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-6159867509246512180?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/6159867509246512180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=6159867509246512180' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/6159867509246512180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/6159867509246512180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/konsep-dasar-pendidikan-luar-sekolah.html' title='KONSEP DASAR  PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH'/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-4360666571587664419</id><published>2008-05-01T05:54:00.000-07:00</published><updated>2008-05-01T06:00:18.147-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Tugas mata kuliah : Tekn. Komunikasi Pendidikan&lt;br /&gt;Jurusan                         : Kurtekdik06&lt;br /&gt;Dosen                              : Bp. Heri TL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Kelompok    :Ika Umaya Yashinta 1102406008&lt;br /&gt;                                            Amalia Nur M.                1102406013&lt;br /&gt;                                            Nur Shobah                      1102406014&lt;br /&gt;                                            Maghfiroh                          1102406015&lt;br /&gt;                                           Rousemiati J.               1102406021&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-4360666571587664419?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/4360666571587664419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=4360666571587664419' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/4360666571587664419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/4360666571587664419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/tugas-mata-kuliah-tekn.html' title=''/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-3851645510258882163</id><published>2008-05-01T05:37:00.000-07:00</published><updated>2008-05-01T05:44:54.562-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pendidikan Luar Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Visi&lt;/strong&gt;&lt;p align="justify"&gt;Menghasilkan tenaga kependidikan PLS profesional yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif serta berlandaskan pada ilmu pengetahuan dan teknologi, nilai-nilai akademik, moral-etik dan budaya bangsa.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;B. Misi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Memberikan layanan pendidikan akademik-profesional berkualitas untuk menghasilkan tenaga kependidikan profesional PLS sesuai dengan jumlah, kualitas, dan relevansinya dengan kebutuhan pembangunan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan model-model inovatif di bidang pengelolaan institusi, program, dan pembelajaran dalam PLS, serta pemberdayaan masyarakat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberikan layanan bimbingan, penyuluhan, dan pendampingan inovatif kepada warga masyarakat di bidang pengelolaan institusi, program, dan pembelajaran dalam PLS, serta pemberdayaan masyarakat&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;C. TUJUAN&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menghasilkan tenaga kependidikan profesional PLS yang memiliki kemampuan mengelola institusi, program, dan pembelajaran dalam PLS, dan memberdayakan masyarakat, serta mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan kehidupan masyarakat nasional dan global.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi PLS berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi, dan budaya bangsa. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyebarluaskan dan memberikan layanan pendidikan inovatif kepada masyarakat berbasis penelitian dan pengembangan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Created: Nur Shobah 1102406014&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-3851645510258882163?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/3851645510258882163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=3851645510258882163' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/3851645510258882163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/3851645510258882163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/pendidikan-luar-sekolah.html' title=''/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4239319262300009030.post-5777664974903434780</id><published>2008-05-01T05:17:00.000-07:00</published><updated>2008-05-01T05:20:58.324-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Pengelolaan program&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kuliah ini membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan pengelolaan program PLS yang meliputi pengelolaan unsur-unsur yang ada dalam program PLS meliputi pengelolaan manusia, pengelolaan warga belajar, pengelolan keuangan, pengelolaan pemasaran, pengelolaan kualitas, pengelolaan organisasional dan pengelolaan sistem informasi dan komunikasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4239319262300009030-5777664974903434780?l=kurtekdik06.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/feeds/5777664974903434780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4239319262300009030&amp;postID=5777664974903434780' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/5777664974903434780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4239319262300009030/posts/default/5777664974903434780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kurtekdik06.blogspot.com/2008/05/pengelolaan-program-mata-kuliah-ini.html' title=''/><author><name>Pendidikan Luar Sekolah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02938109069594736354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
